SAHABAT

Ilustrasi (Sumber : merdeka.com)

Aku memiliki seorang teman yang bernama x. Dia adalah teman kecilku, sekaligus tetanggaku. Waktu kecilku banyak kuhabiskan dengan dia dari bermain layang-layang, bermain kelereng, mancing, dan masih banyak lagi. Dia juga sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Setiap dia dipanggil untuk ke warung oleh ibunya, dia selalu langsung mengerjakannya meskipun kami berdua sedang main dengan seru-serunya. Dia juga suka berbagi dengan sesama temanya maupun sama hewan seperti kucing.
Suatu hari kami sedang bermain tiba-tiba ada seekor kucing yang sedang mencari induknya yang entah tidak tahu di mana. Kucing itu terlihat sangat kelaparan karena sudah lama mencari induknya. Seketika temanku itu langsung mendatangi kucing itu untuk memberi makan dengan uang yang dia miliki untuk membeli ikan asin. Melihat uang yang dibawa temanku itu sepertinya kurang, aku pun memberikan Sebagian uang jajanku kepada temanku untuk dibelikan ikan asin yang diinginkannya. Setalah kami memberi makan kucing itu, kami berdua mencari induk kucing itu sambal membawa anak kucing itu ke dalam kardus lalu membawanya. Singkat cerita kami menemukan induk kucing itu dan meletakkan anaknya ke samping induknya.

Setelah beberapa tahun kami beranjak dewasa. Kami berdua masih satu SD, SMP, maupun SMA. Persahabatan kami berlangsung sangat erat, meskipun terkadang kami bertengkar karena berbeda pendapat. Tetapi yang membuat persahabatan kami semakin erat adalah hal tersebut. Sampai SMA pun ia tetap menjadi orang yang baik dan berbakti dengan orang tua. Melihat teman-temannya banyak yang pacaran, minum-minuman keras, ngerokok dll. Tetapi dia tetap menjadi dirinya sendiri. Entah karena dia memang tidak suka hal tersebut atau tidak enak denganku, aku tidak tahu. Bahkan dia juga dikenal dengan orang yang taat ibadah.

Setalah kami lulus SMA dia melanjutkan kuliahnya ke luar kota dan aku disuruh bekerja di rumah saja, karena keterbatasan biaya. Di tempat kuliahnya dia tinggal di rumah pamanya yang jaraknya dekat dari kampusnya. Ayah dan ibunya pun juga pindah dari kampung halamannya karena tanggung jawab pekerjaan. Yang mengakibatkan dia jarang pulang ke kampung halamannya meskipun hari raya.
Setelah beberapa tahun berlalu, akhirnya dia pulang ke kampung halamannya dengan membawa gelar sarjana. Setelah berpisah bertahun-tahun kemudian kami bertemu dengan penuh haru. Di tengah pembicaraan tiba-tiba dia mengulurkan tangannya ke saku untuk mengambil barang. Ternyata barang yang diambil itu adalah wadah dari sebuah daun kering yang digulung seukuran pensil, kemudian dia mengeluarkan korek lalu membakar ujungnya dan yang ujung satunya diemut(rokok). Perasaanku mulai tidak menentu, yang dulunya dia adalah anak yang baik setalah sekian lama dia berubah. Mau menyalahkan tetapi tidak tahu siapa yang disalahkan. Seketika pembicaraan menjadi canggung untuk melanjutkan. Ketika sudah beberapa jam berbincang-bincang kemudian pulang ke rumah masing-masing, dengan perasan bercampur aduk antara senang karena aku bertemu teman lama dan perasaan gundah karena dia telah berubah.

Setelah hari itu kami mulai jarang bertemu

Rifky Martha Hadian Firmana1 Posts

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password