HARI

Ilustrasi (Sumber : ahad.co.id)

Kemarin . . .
Masih ada senyummu menyapa setiap bertemu
Masih ada rasa sayang yang tebarkan kala rasa ini jemu
Masih ada tawa di antara memuncaknya emosi di ruang temu
Kebiasaanmu diam dikala rekan-rekanita mu bahagia menghabiskan kopi susu
Kemarin . . .
Tidak ada yang peduli terhadap sepi kecuali kamu
Bertemu denganku selalu memeras saraf-saraf otak
Memecah akal, melepas simpul-simpul benang yang rumit
Menurutnya . . .
“Tidak perlu egois dengan keadaan”
“Kamu itu buruk. Baikmu tidak seberapa”
Panas, telinga ini panas
“Keluarga ini adalah hartaku. Pertemuan meleburkan semua keburukan”
Iya walau sekedar bersenandung dengan petikan gitar
Kamu aku adalah satu menatap masa depan
Hari ini . . .
Itu semua lenyap tak berpuing
Senyuman kala bersua sirna
Tawa cepat landas dan hilang
Kala sepi mulai enyah, kenapa kamu begitu tega?
Kau ikut pergi, hengkang
Kau bilang ingin mencari cara beribadah
Setiap perjamuan tanpamu selalu ku rindu kedatanganmu
Kenapa kau begitu tega?
Kala sepi yang mulai ramai. Kala pemikir dan persatuan ini mulai satu
Kau malah ikut hengkang, ikut pergi
Aku marah pada tuhan
Apakah ini tuhan yang terlalu tega dengan keadaan?
Jawaban itu belum ku temukan
Aku marah pada diriku
Marah tak beralasan
Hari esok . . .
Semoga kelak kita dipersatukan dan bersama dalam Jannah
Hanya lantunan al-fatihah berlinangkan air mata
………
Rekan Ikhwan . . .
Inilah sajakku, sajak cinta antara luka ataukah bahagia
Rindu ini padamu untukmu
Rindu pada yang tidak akan kembali

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password