SUP DAGING

Ilustrasi (Sumber : tirto.id)

“Sup nya enak?”
“Enak,” jawabku.
Hangat. Ya seperti itulah yang bisa kugambarkan tentang keluarga ini. Ibu, Ayah, dan Lia, mereka sedang menikmati pesta tahunan keluarga kami dengan jamuan makanan di depan mereka. Seperti biasa, sup daging menjadi hidangan utama.
Hanya kuaduk-aduk sup daging yang ada ada di mangkokku. Sup itu sudah menjadi dingin. Kulihat mereka dengan lahapnya menyantap sup daging itu. Entah mengapa hari ini aku tidak nafsu makan. Seolah ada yang menghantui pikiranku.
16 Agustus 2015
Ya benar. Aku baru sadar ketika tak sengaja kulihat kalender di seberang meja makan. Angka yang nampak berbeda di antara angka lainnya karena telah dilingkari dengan spidol merah.
Melihat nafsu makanku yang hilang, kuambil mangkok supku dan beranjak pergi dari meja makan. Tak lupa juga kuucapkan terima kasih atas makannya.
“Kemana si Buddy?”
“Dia menghilang lagi,” jawab Ayah.
“Lagi?” Tanyaku kepada mereka.
Aku tak percaya ini. Buddy adalah anjing ras Pudel yang Ibu bawa dari kota ke rumah sebagai hewan peliharaan. Anjing itu bahkan baru dipelihara kemarin tapi sudah menghilang saja. Dan ini adalah yang kedelapan kalinya dimana setiap anjing yang kami pelihara selalu menghilang.
“Anjing itu tidak mau menurut dan nakal, seharusnya dibuang atau dibunuh saja,” jawab Ibu. Ibu mengatakannya dengan nada bercanda. Dan yang lain iku tertawa seolah itu juga lucu bagi mereka.
”Karena itu aku benci anjing. Tapi aku sebenarnya menyukai dua anjing kita delapan tahun yang lalu. Mereka bertahan selama sepuluh hari dan juga mematuhi kita.walaupun harus dirantai leher mereka,” sambung ayah.
“Kau benar, yah, walaupun pada akhirnya mereka mati karena memberontak,” Ibu melanjutkan obrolan itu yang tak tahu apa kelanjutannya karena aku segera menuju ke kamarku.
Padahal aku ingin memberi daging yang ada di sup yang tidak kumakan untuk Buddy. Kupikir dia akan senang. Ya sudah, mau bagaimana lagi.
. . . .
Padang rumput ini sangat luas. Dengan sungai di seberangnya dan pohon besar yang menjadi pembatasnya. Tanpa sadar kulangkahkan kakiku menuju sungai itu. Jauh. Seolah-olah aku tak akan bisa sampai kesana.
“Tak apa,” pikirku.
Toh aku juga menyukai perjalanan ini. Sejuk. Dengan angin yang berhembus kencang. Sinar matahari yang tidak terlalu menyengat. Dan suara kicauan burung di pohon besar si dekat sungai sana. Kupejamkan mataku.
Menenangkan.
Tapi tiba-tiba suara kicauan burung itu menghilang. Sama-samar berganti menjadi suara gonggongan anjing. Itu bukan hanya satu anjing. Ketika aku membuka mata aku terkejut.
Mereka seakan menggonggong padaku. Seperti memperingatkanku.
“Satu, dua, tiga, . . . ,” kuhitung anjing yang ada disana.
“Sepuluh.”
Tunggu. Dua diantara mereka bentuknya sangat aneh. Apa mereka juga anjing sungguhan? Aku seperti familiar dengan dua anjing aneh itu.
Ketika aku ingin mendekati pohon itu karena penasaran, pohon itu malah semakin menjauh. Seakan memang tidak bisa dituju. Aku berlari tapi semuanya tiba-tiba menjadi putih.
. . . .
“Ini kamarku,” gumamku.
Itu hanya mimpi. Tetapi mimpi itu sangat mengganjal seolah memiliki pesan. Aku pun membuka telepon genggamku dan membuka laman berita harian yang ada disana. Ketika aku melihat judul-judul berita yang ada disana, tiba-tiba jariku berhenti pada satu judul. Mataku tak bisa berhenti mengeja judul berita itu. Itu mengingatkanku pada sesuatu.
Segera kututup telepon genggamku. Beranjak dari tempat tidur dan menuju ke sebuah lembaran koran di meja yang kusimpan sejak delapan tahun yang lalu.

‘Dua Orang Korban Perampokan di kota London Pada Tanggal 26 Agustus 2007 Ditemukan Tewas Dengan Anggota Tubuh Tidak Lengkap’

Sedih.
Itu yang aku rasakan ketika membaca judul di koran itu. Tanpa sadar air mataku jatuh ketika aku harus mengingat bagaimana orang tuaku meninggal dengan tidak wajar seperti yang ada di koran lusuh itu.
Aku masih terus menangis dan memandangi koran yang diberikan orang tua yang sekarang telah mengadopsiku. Di otakku terus berputar ingatan bagaimana keluargaku dirampok dan orang tuaku yang menghilang setelah itu.
Namun, ingatan itu muncul lagi dan lagi. Ingatan tentang bagaimana aku yang bersembunyi dan orang tuaku menghadapi mereka serta teriakan perampok itu sebelum membawa orang tuaku pergi.
“Kau yang kesebelas”

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password