KULIAH DARING, SETUJU ATAU TIDAK?

Ruang Kuliah Kosong
Ruang kuliah kosong, dampak dari kuliah daring di Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Jember. (binaryupdate.org / Rifky Martha Hadian Firmana)

JEMBER – Seluruh fakultas di Universitas Jember meniadakan sistem perkuliahan tatap muka  menjadi kuliah online (daring) untuk sementara waktu sebagai langkah menanggulangi penyebaran COVID-19, termasuk Fakultas Ilmu Komputer, mulai hari ini, Senin (16/3/2020).

Berdasarkan Surat Edaran resmi yang telah dikeluarkan, Universitas Jember menetapkan beberapa kebijakan demi mengantisipasi penyebaran COVID-19. Salah satu kebijakannya adalah dengan mengganti kegiatan perkuliahan tatap muka menjadi kuliah online (daring) terhitung mulai tanggal 16 Maret 2020 s.d. 31 Maret 2020.

Dosen Fakultas Ilmu Komputer, Fajrin Nurman Arifin S.T., M.Eng. membenarkan bahwa memang benar saat ini Universitas Jember, termasuk Fakultas Ilmu Komputer tengah menerapkan kuliah daring. Langkah ini ditempuh sebagai kesiapsiagaan dalam mengantisipasi penyebaran COVID-19.

Ketika ditanya mengenai dampak dari adanya kuliah online oleh tim kami, beliau mengungkapkan bahwa kuliah online dapat membuat proses penyampaian materi dari dosen ke mahasiswa tidak maksimal. Dalam artian, mahasiswa dituntut untuk menjadi aktif dengan mencari bahan materi tambahan dari sumber lain.

“Kalo dari sisi dosen ya, apa yang akan kami rencanakan untuk diberikan kepada mahasiswa mungkin tidak maksimal. Karena di situ keaktifan mahasiswa yang dituntut untuk mencari literatur lain untuk menjelaskan materi tersebut,” ujarnya.

Menurut keterangan salah satu profesor di Fakultas Ilmu Komputer, Prof. Drs. Slamin, M.Comp.Sc., Ph.D., penerapan kuliah online di Fakultas Ilmu Komputer sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa, mengingat dosen di Fakultas Ilmu Komputer sendiri memiliki mobilitas yang cukup padat.

“Bagi kami (dosen) tidak ada masalah, juga terbiasa karena sebelumnya ada kebijakan seperti itu,  universitas memiliki kebijakan, dosen boleh melaksanakan kuliah online maksimal 40%, awalnya 25%,” tuturnya.

Selain itu, beliau juga menuturkan bahwa media untuk perkuliahan online ini juga sudah memadai, seperti media pembelajaran forum diskusi di e-learning Universitas Jember atau pun dengan menggunakan media komunikasi seperti Whatsapp atau Telegram.

Bertolak belakang dengan narasumber, beberapa mahasiswa mengungkapkan ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan kuliah online tersebut.

Muhammad Wahid Ash Sidiq (18), salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer itu berpendapat bahwa pihak universitas terlalu berlebihan dalam mengambil keputusan.

“Kalo menurutku sih terlalu berlebihan, kita itu di kuliah juga perlu interaksi langsung. Bayangkan aja kalo  kita kuliah online sampai akhir semester, ya kayak kita mau dapat apa selama kuliah,” ungkap mahasiswa semester empat itu.

Salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer lainnya, Immanuel Agung Praja Pramuty (19), juga berpendapat bahwa kebijakan yang diambil terlalu cepat dan terkesan menakut-nakuti mahasiswa atau bisa dibilang pihak universitas terlalu paranoid. Menanggapi kebijakan tersebut, tentunya mahasiswa juga berharap agar universitas juga melengkapi fasilitas berupa sanitizer, dan fasilitas-fasilitas lain yang dapat membantu pencegahan COVID-19.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password