Bait Cinta Dalam Sujudku

Sumber foto : gedubar.com

Kamu, satu nama yang selalu terngiang di telingaku.

Satu nama yang tak bisa kuhindari.

Meski sepintas senyumku cukup getir tersimpul sekaligus.

Tapi kamu, membuat relung jiwaku luluh karena bait cinta yang kau dengungkan dalam sujudmu.

Lewatnya kita bertemu, meski sapa suara tak bisa kubalas.

Ketika itu aku merasakan getaran cinta yang Allah tanamkan di hatiku.

Pena itu tetap melekat di atas kertas. Bersembunyi di balik jemariku. Merangkai kalimat yang sengaja kutuangkan di sana. Setiap waktu kosongku, pena dan secarik kertas selalu menyapaku untuk selalu berkata tentangnya. Tentang seorang pemuda penyuka ayat-ayat sang khalik. Tentang pemilik kedua sorot mata kecokelatan yang tertangkap basah olehku, saat ia berani melempar pandang ke arahku, tidak sengaja. Aku terdiam, lalu sekaligus menghindar dari sapaannya.

Entah mengapa, seolah-olah hati kecilku bergetar. Saat aku tahu, dia berusaha berada di dekatku. Saat aku sadar, aku sengaja menjauhkan diriku dari satu senyuman itu. Meski hati ini perlahan merasakan kenyamanan saat ia ada di sisiku. Mendaratkan senyuman simpulnya pada mataku yang teduh. Aku tak dapat membalas apa yang ia lakukan padaku. Namun, ada secuil rasa yang mengendap-ngendap ke relung hatiku. Meski beberapa kali aku sengaja tak mempedulikannya. Apakah aku menyukainya?

Ah! Aku rasa—kata itu sedang ada buatku. Dan tak bisa kuhindari. Aku memang gampang menyukai dan sekaligus mengagumi seorang pemuda yang ada untukku. Bahkan tanpa mereka tahu—jika aku menyukai mereka satu persatu. Tapi semakin lama rasa itu menghilang. Rasa kagum itu tak sempat kurasakan lagi. Mereka yang kukagumi tak benar-benar acuh padaku. Yah, aku memang terbiasa dengan perasaan kagum. Namun tidak cepat menjelmakan rasa kagum menjadi kata cinta.

Tapi dia, dia yang berbeda dan sekaligus berada di sekelilingku. Entah itu di dunia kampus bahkan hingga dunia pikiranku. Aku tak tahu mengapa, aku sempat tak peduli padanya. Mungkin itu hanya perasaan kagum seperti biasanya kurasakan. Ah sudahlah! Mengapa aku harus menulis kalimat puisiku untuknya kembali? Aku pikir—aku sedang mengalami gangguan pikiran. Hingga secara tak sadar, aku berani menuangkan kata-kata tentangnya bersama penaku.

Ya Allah… Tidak! Bagaimana pun, aku tak boleh ada perasaan padanya. Dari awal aku memang tak menyukainya. Dari awal aku hanya menganggap dia sebagai kakak tingkatku saja. Tak sedikit kaum hawa di sekitaran fakultas yang kupijaki sedang mengaguminya. Bagaimana aku mengetahuinya dengan jelas, jika para sahabatku sedang memujanya. Menurut mereka, pemuda itu bukan hanya sempurna fisik. Namun sempurna dalam hal agama. Bahkan aku memiliki pikiran, aku ingin mendengarkan bacaan alquran darinya.

Ah, ternyata pikiranku benar-benar kacau! Astagfirullah… Tidak! Aku tak boleh menyukainya. Bahkan menjelmakan kata kagum menjadi arti cinta yang tertanam di hatiku. Dia sangat sempurna buatku. Aku apa? Aku hanyalah seorang gadis yang jauh dari kata sempurna. Aku hanyalah gadis yang biasa dan gadis yang tak memiliki otak yang cerdas untuk berpikir. Bahkan di mata para pemuda, aku tak terlihat. Aku bagaikan bersembunyi di balik teman-temanku. Aku tak secantik bagai gadis lainnya di kampus.

Aku pernah berpikir, aku tak pantas bila sekedar menyukai dan mengaguminya. Sangat tidak pantas untuk seorang gadis sepertiku. Bahkan aku seorang gadis yang cukup jauh dari agama. Meski sikapku memang sempat membuat orang terperangah. Kata orang, aku gadis penyabar—gadis penurut dan baik di mata mereka. Tapi jauh dalam hatiku, aku gadis yang tak baik. Meski aku berjilbab dan bersikap baik bagi mereka. Aku masih jauh dari sang khalik. Bahkan aku sangat jarang mendekatkan diriku pada sang khalik.

Cukup dengan identitas diriku. Pena itu spontan terlepas dari jemariku. Lalu aku melekatkan jemariku di atas puncak kepalaku. Kulihat deretan kata yang baru saja tertulis di kertas. Ya Allah… Bahkan secara tidak sadar—aku menulis kalimatku untuknya. Ada apa denganku? Tidak mungkin jika aku harus memiliki perasaan untuknya. Lagi-lagi aku memekik kembali kata-kataku. Cepat-cepat kutarik kertas coretanku dan kuremas pelan. Hingga kertas itu berganti menjadi gulungan melingkar. Astagfirullah…, gumam batinku.

Teriknya mentari semakin memuncak. Menyelimuti langit di permukaan bola bumi. Aku sedang bersinggah di depan perpustakaan pusat kampus. Kusandarkan tubuhku di balik tembok berlapis cat putih pucat. Rupanya siang yang kosong ini, masih banyak mahasiswa berkeliaran di sekitaran halaman dan gedung perpustakaan. Aku meletakkan kembali kertas dan penaku ke dalam ransel jingga milikku. Perlahan aku menilik arloji yang melilit di pergelangan tanganku. Jam menunjukkan waktu dhuhur. Sedari tadi adzan telah berkumandang di masjid kampus pusat.

Kuperhatikan di sekitaranku. Arah fakultasku tak jauh dari perpustakaan pusat. Bahkan tempat kuliahku memang bertetangga kembar dengan perpustakaan yang sedang kupijaki saat ini. Kuberanjak dari tempat singgahanku. Tak lupa kusandangkan ransel jinggaku di balik punggungku. Aku mulai melangkah pelan dari halaman perpustakaan. Pikirku, kuharus cepat-cepat melaksanakan salat dhuhur.

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling gedung. Suara derap langkahanku bercampur aduk bersama pejalan kaki mahasiswa lainnya. Entah mengapa perasaanku begitu bergetar hebat saat melewati gerbang perpustakaan. Langkahku semakin kupelankan, rupanya pemuda itu lagi yang sedang menyuarakan derap langkah kakinya. Aku tak bisa menghentikan irama degupan jantungku yang bergetar kembali. Entah aku tahu irama itu memang benar berasal dari jantungku atau suara hatiku. Aku benar-benar tak peduli.

Lagi-lagi kutundukan wajahku ke bawah aspal jalanan kampus. Laki-laki itu baru saja melewatiku dengan biasa. Tanpa ada senyuman yang biasa kulihat darinya. Namun aku merasakan pandangannya yang tertuju sekilas padaku. Ia tak menyapaku kembali. Seolah ia tak mempedulikan keberadaanku di sana. Pemuda itu benar-benar telah melewati langkahanku dan memasuki pintu gerbang perpustakaan kampus pusat. Aku merasakan senyuman getir yang terulas di bibirku. Ya Allah… Ada apa denganku?, lagi-lagi hatiku bergumam.

***

Baru saja kubenamkan sujudku di atas sajadah. Kupejamkan kedua mataku pelan-pelan. Seolah meresapi apa yang kulantunkan dalam doaku. Rasanya entah mengapa aku merasakan getaran yang sama. Getaran hatiku saat aku mulai membenamkan sujud salatku di siang itu. Ya Allah… Apa yang hamba rasakan? Perasaan yang tak pantas tuk hamba tanam di hati hamba. Mengapa kumerasakan getaran lagi ketika aku menemukan dia di sisiku ya Allah? Hamba mohon… Jika memang rasa itu yang kau tanam di hati hamba adalah perasaan cinta untukmu, maka bimbinglah hamba, agar hamba selalu berada di jalanmu. Suara hatiku mulai menggema di dalam doa sujudku.

Rasanya cukup tenang. Getaran itu mulai melenyap dalam sujudku. Kuberanjak dalam tempat sajadahku, setelah salat dhuhur usai kulaksanakan. Beberapa hari ini entah mengapa aku mulai mengubah kebiasaanku. Perlahan kumulai mendadak rajin tuk beribadah. Entah itu hal wajib atau pun hal sunah sekaligus. Aku rasa—aku mendadak rajin mengerjakan hal yang jarang sekali kukerjakan. Mulai dari bersih-bersih kamar kos hingga memasak. Semua itu kulakukan setiap hari. Meskipun aku mengalami jadwal padat kuliah hingga malam tiba.

Pakaian yang lama sengaja kutanggalkan. Dan kini kumulai berhijab sempurna sesuai yang di perintahkan agama. Aku mulai menanggalkan pakaianku yang berbau jeans super ketat yang melilit tubuhku. Kuganti pakaian jilbab dan rok panjang untuk menutupi tubuhku. Aku rasa—aku sangat nyaman berpakaian syar’i seperti ini. Ya Allah terima kasih, engkau telah memberiku pintu hidayah untuk berhijrah. Perlahan ingatanku kembali mengingatnya. Seorang pemuda yang sangat kukenal. Pemuda rohis yang selalu melempar pandangannya padaku. Tapi itu sudah lama, namun kini kutak merasakannya kembali.

Aku memang bertahan dalam diamku. Saat aku bertemu dengannya. Ia yang amat santai bercengkerama meski berada dalam jarak hampir dekat denganku. Namun aku merasakan getaran itu kembali menyelinap dalam hatiku. Pernah sekali ia selalu mendekatiku saat tahu aku mengenakan pakaian yang berjilbab lebar. Entah mengapa setiap kali kulihat dia sedang bercengkerama bersama teman gadis sepantarannya. Ada secuil perasaan teriris di hatiku. Aku tak mengerti, mengapa bisa-bisanya aku mencuatkan tangisku dengan cepat.

“Al, tidak seharusnya kamu menyelipkan air matamu untuknya. Dia memang laki-laki berparas baik. Aku tahu itu. Tapi ada baiknya, kamu menitikkan air matamu untuk sang khalik. Bukan pada manusia ciptaaan Allah. Allah yang patut kita cintai terlebih dulu, sebelum kamu membiarkan hatimu jatuh padanya.” sahut sahabatku yang sering kupanggil Rifa.

Ia memang benar, aku hanyalah manusia biasa yang tak pantas untuk mencintai. Apalagi untuk menjatuhkan perasaan cinta untuk pemuda yang tiba-tiba membuatku memikirkannya. Bahkan aku mengira, aku mengubah diriku hanya ingin merasa pantas untuk pemuda itu. Karena yang aku tahu, pemuda itu memiliki agama yang baik dan sangat jauh sepertiku. Apa-apaan yang sedang mengacaukan pikiranku! Lagi-lagi aku harus berbuat salah arah. Bukan karenanya aku bisa mendapatkan ke-istiqomahan dari sang khalik. Harusnya aku menyadari, ia hanyalah sebuah perantaraku. Lewatnya aku mampu mengingat Allah dan rasulullah.

“Rifa… Aku tahu aku salah. Tapi dari awal aku nggak mau ada perasaan untuknya. Dari awal aku hanya menganggapnya sama dengan pemuda lainnya. Aku harus mengaguminya dan lalu aku tidak mengaguminya lagi. Tapi ini rasanya beda… Aku merasakan getaran hebat pada jantungku. Saat dia ada di sisiku, mau pun ia datang melewati langkahanku. Buktinya… Aku harus merasa sedih, karena ia berteman akrab dengan gadis lain. Gadis yang lebih cantik dan yang lebih cerdas dariku. Apa aku salah memantaskan diriku?” lagi-lagi suaraku bersahut pada sahabatku.

Aku tak mengerti apa yang mengendap dalam hatiku. Apa aku benar menyadari, bahwa perasaan itu memang rasa cinta dari sang khalik? Ah, aku tak bisa menebaknya. “Kamu nggak salah dalam hal memantaskan dirimu. Tapi niatmu yang salah. Niatmu memantaskan diri hanya untuknya. Bukan karena siapa yang menciptakannya. Aku pikir… Perasaanmu benar. Allah akan menitipkan sebuah rasa cinta di hati makhluknya. Aku lihat… Dia memang menyukaimu.” gumam Rifa lagi. Hingga benar-benar membuatku terperangah.

Dari mana ia tahu kalau memang pemuda itu menyukaiku? Apa sahabatku hanya mengada-ngada saja? Aku pikir tidak. Setiap orang akan tahu bagaimana perubahan sikap orang yang sedang jatuh cinta. Mungkin sahabatku memang peka. Namun aku yang tidak, sampai detik ini, aku tetap menyangkal dengan perasaanku. Namun aku merasakan rindu yang menjelma, saat aku tidak menemukannya dalam sehari saja. Mungkinkah Allah memang menitipkan rasa cinta padaku untuknya? Namun caraku mencintainya yang salah.

“Alika… Kalau kamu memang mencintainya. Kalau kamu benar menyukainya. Tidak seharusnya kamu hanya memendam perasaannya di dalam hatimu saja. Ungkapkan semua yang menyelip di hatimu pada Allah. Minta sama Allah, berdoa dari hati yang terdalam. Kalau memang dia yang kamu cintai, Allah akan tahu doamu. Allah akan memberimu jalan cinta yang baik. Jika memang dia yang Allah ridhoi untukmu, Allah akan menyatukanmu dengannya. Kalau tidak, kamu harus bisa melepasnya dari hatimu. Semua takdir dan jodoh, itu rahasia ilahi. Kita tak pernah tahu datangnya kepada siapa dan kapan. Simpan perasaan cintamu itu dalam setiap sujudmu. Temukan dia setelah kamu mencintainya karena Allah.”

Rifa menghentikan perkataannya setelah ia mendekapku dalam pelukannya. Lagi-lagi aku harus merasakan getaran yang mungkin bisa dibilang cinta dalam hatiku. Mengapa harus dia yang terbenam dalam ingatan dan akal batinku. Allah sang maha cinta, sang maha yang membolak-balikkan hati seseorang. Rifa benar, tak seharusnya aku menyimpan rasa cinta yang hanya mendekam dalam hatiku saja. Tapi aku harus mengungkapkan semua rasaku pada sang khalik. Sang maha pencipta rasa cinta. Jika memang dia yang Allah ridhoi untuk bersamaku kelak, Allah akan menunjukkan jalan cinta yang baik untukku dan untuknya.

Biarkan perasaan cinta itu mendekam dalam hatiku. Biarkan perasaan cinta itu terbenam dalam setiap bait sujudku pada sang khalik. Aku memang berani menyelipkan perasaan cinta padanya dalam hatiku. Hingga aku merasakan getaran jantungku saat dia berada di dekatku. Aku memang tak dapat membalas tegur sapaannya yang hangat. Aku harus sembunyi dalam diamku dan dalam tundukku ketika ia melempar pandangan padaku. Karena aku tahu, aturan sang khalik tak akan menyukai hambanya bila bersapa pandang dengan yang bukan mahramnya.

Hingga hari itu aku memang mendengarkan suara yang ia lantunkan dalam bacaan alquran. Melagukan ayat-ayat sang khalik yang sangat membuat hatiku tersentuh. Lagi-lagi aku harus tersenyum dalam tundukku. Aku harus bisa menahan perasaanku darinya. Karena aku tahu, berbagai godaan kian menghampiriku untuk selalu mendekap pada arti cinta yang salah. Aku membuang rasa raguku, aku membuka rasa sadarku. Aku tetap mendekatkan diriku pada sang khalik.

Menitipkan bait cinta dalam setiap sujud ibadahku. Karena aku harus menemukannya dalam arti cinta yang benar. Yaitu mencintainya hanya karena Allah. Nanti, pada saatnya tiba kuakan menemukan bait cinta yang kutitipkan di setiap sujudku. Untuknya dan hanya karenanya. Karena aku tahu, jodoh itu cerminan diri dari setiap makhluk. Allah akan memberikan seorang yang baik pada orang yang baik dan begitu sebaliknya. Aku percaya, akan ketetapan sang khalik.

“Boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu amat buruk bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. Kamu tidak mengetahui sedangkan Allah Maha Mengetahui.” (QS. 2:216)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password