Bercengkrama dengan alam

Desain Ilustrasi: BINARY/Agung Alexander Yosua

Berjudul dari ‘Makrab asik’ menuai feedback positif.  Yah, it’s amazing weekend. Kali ini tidak hanya sekedar akhir pekan yang kelabu, melainkan kelabu itu mengusik corak yang bermakna. Berlangsung singkat, namun tak berkesudahan terlukis. Membaur menjadi angan melebur tapi pasti, yah itu kami para calon jurnalis muda yang ingin melukis setiap dekap putaran waktu menjadi abadi dalam ragam karyanya. Jangan biarkan urat nadi ini terputus tanpa suatu karya. Tanpa batasan angan yang tertera, hingga lautanpun bisa terlantaskan. Tidak perlu batasan ruang dan waktu untuk mengabdi dalam sebuah karya, meninjau pustaka lalu bebaskanlah. Jangan biarkan kobaran semangatmu ditelan dalam jiwa raga yang melemah dalam guncangan kerasnya dunia.

Malam Keakraban Sabtu – Minggu, yang tak genap dalam hitungan 24 jam terasa begitu cepat berlalu. Bertempat di alam bebas, yang berpacu dengan alunan desir pantai. Ombak yang memangku segala kehidupan mula-Mu. Malam keakraban yang akrab dengan pantai menyapa insan sekitarnya. Meski hanya alam bebas yang menyapa, namun sapaan itu memberi makna tersendiri dalam dekap rentetan makrab yang ada.

Berawal dari membangun persinggahan sementara, membangun bagaimana tenda bisa berdiri bisa tegak dan kuat walau ombak lautan yang tak mungkin kiranya menyerbu. Tolong menolong sesama, antar pribadi yang membutuhkan dan saling melengkapi indahnya kekurangan dan perbedaan yang ada. Ditengah panasnya terik matahari yang menyinari, namun tidak mampu mematahkan semangat yang telah berkobar pada diri kami. Berkeluh kesah bersama, memupuk rasa gotong royong hingga kekeluargaan terjalin dalam kelompok kecil perkumpulan orang – orang yang hobby mengabadikan setiap dekap rentetan peristiwa yang terjadi.

Bukan anarki yang berkeluh kesah dengan ombak hingga sunset, melainkan sepoi angin pantai yang menjala menuju kekerabatan. Asik memang asik, bercengkrama dengan alam bebas melalui hamparan pasir-pasir yang menyelimuti. Andai alam bicara, kita mampu tak menampungnya dalam pena. Beribu hingga berlembarpun tak kuasa membaca, namun fakta yang berbicara melalui lambaian-Mu. Keakraban yang berpacu dengan alam ini, mampu memberi referensi yang cukup dalam mengenai curahan tentang apa yang terjadi, mengenai lukisan pena yang terabdi pada sebuah karya. Bukan seorang jurnalis yang acuh terhadap rangsang, acuh dengan keadaan yang ada, melainkan tak acuh terhadap keberadaan yang ada namun meniadakan.

Minoritas memang yang seperti ini, namun minoritas ini mampu membuahkan hasil yang mayoritas. Bukan acuh melainkan pengacuan, iya pengacuan pada dunia kita sendiri yang berpacu pada cakrawala.

Hingga sore hari berjenjang, senjapun mulai menyapa kami, mulai menampakkan dirinya secara semu. Kami pun mulai bercengkrama, mulai mengawali percakapan dengan mereka. Ombak laut yang memberi soundtrack pada acara outbound kali ini terdengar indah dan lengkaplah sudah. Ditengah serbuan anak – anak akan perlombaan yang ada, tak terasa rintik air hujanpun tidak mau kalah ikut menyapa. Sungguh nikmat mana lagi yang ingin kau dustakan, yang ingin kau acuhkan. Cobalah memulai jabat tangan dengan mereka, hingga mereka terasa asik dengan kita. Meskipun hanya beberapa yang ikut, namun outbond tidak terasa sunyi karena alam bebaspun ikut bercengkrama dengan kita.

Hingga sunset menampakkan dirinya, pertanda hari semakin gelap dan berakhir, namun bukan keakraban ini yang berakhir. Pancaran bayang semu, tak mampu berbisik hanya indera yang mampu menjawabnya. Awan yang awalnya kelabu bercapur birunya laut, mampu terganti dengan mejikuhibiniu deretan warnanya. Hingga larut malam pun alam masih bercengkrama dengan kami. Didepan tenda yang kasat mata, yang mampu memberi ruang untuk menghela nafas sekejam.

Api unggun tertata hingga tersusun layaknya bukit yang ada dikanan kiri tempat camp kami. Keakraban ini mulai terasa saat hari mulai gelap. Memang makrab yaitu malam keakraban mungkin puncak acaranya berada pada malam hari yang dingin nan sunyi sepi. Hangatnya tumpuan api, mampu mengakrabkan malam yang dingin yang tak kasat mata. Berawal dari berkenalan hingga terjalin keakraban, yang bersinggah pada hamparan luas yang berpacu dengan alam bebas. Berbincang bersama sambil menyelam, menatap cakrawala yang menebus kerlap kerlip dilangit. Bernyanyi dan berinteraksi dengan sesama mungkin lebih indah apalagi berkumpul tanpa mengenal dan batasan usia. Bersenda gurau dan bernyanyi bersama. Kerlap kerlip bintang mampu menambah hangatnya suasana malam yang sunyi, mengakrabkan interaksi yang ada. Berpacu dalam melodi, mengusik indahnya cengkerama malam hingga dini hari menerpa. Bulatan bulan menemani dalam setiap dekap bincang malam hari, hingga kamipun mulai terlelap. Berlanjut mentari menyosong, hari baru tertanda telah dimulai. Udara yang segar menghidupkan suasana nyamannya tenda yang nyaman sekiranya. Tak terasa berakhir sudah kegiatan yang ada dalam makrab yang singkat ini, kembali untuk pulang pada peradaban msing – masing. Bergegas membersihkan sampah – sampah yang berserakan di sekitar dan ngembalikan kondisi seperti sediakala.

Terima kasih atas, kekeraban yang terjalin dalam hitungan beberapa jam yang tak sampai hingga dalam sehari penuh 24 jam. Mungkin sudah berakhir rentetan acaara ini, namun tidak akan berakhir dalam dalam pena yang akan terlukis dalam sajak dan goresan makna yang kan abadi didalamnya. Semoga dengan malam keakraban ini menjadikan kami pers mahasiswa yang tanggap dalam keacuhan kerasnya era globalisasi dan tandusnya pustaka kehidupan. Semoga semakin sukses UKM-P BINARY ini, semoga semakin jaya dan menjadikan sebuah wadah insan tuk berkarya selanjutnya yang tanggap pada pustaka cakrawala.

Salam kepal tangan kiri, SALAM PERSMA!!!

 

Desain Ilustrasi : Agung Alexander Yosua

* Anggota magang BINARY periode ketiga

Penulis : Ayu Firda Amalia

* Anggota magang BINARY periode ketiga

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password