Museum Huruf: Ingin Lestarikan Aksara dan Angkat Jember dengan Museum

Beberapa koleksi aksara di Museum Huruf, Jember. (Foto: BINARY/Elok Ayu Khasanah)

Museum Huruf pada Rabu, 30 Agustus 2017 lalu telah mengadakan Grand Opening-nya di Jl. Bengawan Solo 27, Jember. Museum ini digagas oleh Ade Sidiq Permana, seorang praktisi museum di Probolinggo, yang kini juga sebagai Direktur Museum Huruf; dan Erik, pemilik kompleks Bengawan Solo (BS) 27 yang mewakafkan sebagian ruang di rumahnya untuk dijadikan tempat Museum Huruf tersebut, sekaligus sebagai Direktur Pelaksana dalam struktur organisasi Museum Huruf.

Melalui Museum Huruf, Ade menuturkan beberapa tujuan, terutama agar dapat mengangkat literasi khususnya aksara, mengangkat Jember dengan keberadaan museum, dan melestarikan aksara khususnya aksara nusantara. “Titik berat kami di aksara nusantara, karena tanggungjawab kita sebagai orang Indonesia untuk melestarikan aksara itu sendiri sudah mulai habis kayaknya. Dari sekitar 700 yang kita tahu aksara dan bahasanya, sekarang kurang lebih tinggal 350 saja yang teridentifikasi. Nggak tahu lagi yang lainnya,” ujar laki-laki kelahiran Jember tersebut.

Suasana pembukaan acara Grand Launching Museum Huruf, Jember. (Foto: Panitia/Nana W)

Selama kurang lebih satu setengah tahun mereka mempersiapkan Museum Huruf, dan sebetulnya Museum Huruf sudah soft-launching sejak 19 November 2016 lalu. “Selama prepare dari soft-launching ke grand-launching ini kita melakukan banyak aktivitas, termasuk ikut Museum Nasional dan di Asosiasi Museum Daerah Jawa Timur, mengikuti sosialiasi museum, dan banyak sekali,” ujar Ade.

Meski banyak kendala, terutama karena Museum Huruf adalah museum swadaya atau swasta, mereka tidak putus langkah. “Secara prinsip kita nggak ada kendala, tapi karena kita ini by organized atau organisasi; kita juga memerlukan listrik, kita memerlukan peralatan, kita memerlukan display, terus harus mengadakan kegiatan-kegiatan. Bagi saya memang yang utama dibutuhkan adalah capital atau modal. Tapi itu tidak bikin kami surut. Kami tetap melakukan sesuai dengan impian kita,” tambahnya. Untuk menekan biaya tersebut, mereka membuka ruang donasi. Donasi tidak harus fresh money; bisa buku, inisiatif, pemikiran, apapun.

Ada beberapa koleksi dalam Museum Huruf, seperti benda-benda yang terdapat aksara di atasnya baik aksara lokal maupun internasional, seperti Aksara Paku yang berasal dari Sumeria, Aksara Kawi dan Palawa dari India Bagian Selatan, Aksara Braille dari Perancis, Alfabet Romawi dari Yunani, dan yang lainnya. Selain koleksi benda, Museum Huruf juga menyediakan perpustakaan yang berisi buku-buku seperti buku tentang aksara, kebudayaan, atau tentang kesenian.

Koleksi di Museum Huruf Jember dan penjelasan tentang aksara. (Foto: BINARY/ Elok Ayu Khasanah)
Ruang perpustakaan di Museum Huruf Jember. (Foto: Panitia/ Nana W)

“Melalui museum ini kita menawarkan kekuatan koleksi. Mungkin ini satu-satunya museum huruf di Indonesia, mungkin juga di dunia. Coba di-browsing aja, ada apa enggak. Kalau enggak ada, mungkin kita jadi pertama di dunia, meskipun (museum ini) kecil,” ujar Ade. Selain itu, Museum Huruf juga akan mengadakan pelatihan-pelatihan tentang aksara hingga ke pelatihan penulisannya.

Keberadaan museum menurut Ade sangat penting, terutama di Jember. “Museum ini sebetulnya jendela dunia. Saya menganggapnya, kalau saya seorang turis di suatu daerah, saya akan cari museum dulu, karena saya pengen tahu daerah ini seperti apa, orang-orangnya seperti apa, history-nya bagaimana, bagaimana saya harus berlaku. Itu lewat museum.” Ade berharap, Museum Huruf bisa memberikan manfaat dan pembelajaran kepada masyarakat, terutama cara mengapresiasi, bagaimana menjadi orang Indonesia, dan bagaimana untuk melestarikan aksara-aksara Indonesia.

Beberapa koleksi beraksara di Museum Huruf Jember. (Foto: BINARY/Elok Ayu Khasanah)

Gobis, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jember memberikan tanggapan positif terhadap keberadaan Museum Huruf tersebut. “Bagus sih. Biar teman-teman bisa tahu bagaimana sejarahnya (aksara dan bahasa) dari jaman dulu, dari jaman batu,” ujar mahasiswa angkatan 2015 tersebut.

“Untuk Jember mudah-mudahan bisa tinggi lagi derajatnya dengan museum. Saya sebagai orang pemerintahan sedikit paham tentang museum ini: setiap kota yang memiliki museum itu bisa naik, karena orang-orangnya dianggap terpelajar di situ –kalau orang punya museum. Di luar negeri, museum itu jadi standarisasi. Orang yang bekerja di museum akan mendapatkan apresiasi yang tinggi, walaupun kadang bayarannya nggak ada,” tambah Ade dengan tertawa. “Meski Museum Huruf adalah museum swasta, di Jember malah belum ada Museum Daerah.”[]

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password