Adakan Pesta Teater HATEDU, Pawon Carklacer Kumpulkan Komunitas dan UKM

Penampilan kedua teater pada hari pertama HATEDU (28/3), berjudul Badokan yang dimainkan oleh Studi Teater Jember. (Foto: BINARY/Farus)

Selama tiga hari berturut-turut sejak tanggal 28 sampai 30 Maret 2017, Pawon Carklacer –sebuah wadah untuk berkarya di bidang Kesenian dan Budaya, menyelenggarakan Pesta Teater HATEDU (Hari Teater Dunia). Acara yang bertujuan untuk merayakan Hari Teater Dunia ke-27 ini dilaksanakan di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember dan didukung oleh beberapa komunitas serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di Jember maupun luar Jember.

Rangkaian acara HATEDU terdiri dari enam penampilan, yaitu penampilan dari Kurusetra, Studi Teater Jember, Teater Angsa, Teater Lebus, Teater Gelanggang, dan Teater Kita dari Banjarmasin. Selain berisi pertunjukan teater, HATEDU juga menyediakan stan untuk menggelar karya-karya visual dari komunitas PenaHitam Jember. Di akhir acara, penyelenggara menyediakan diskusi apresiasi seni untuk semua pertunjukan tiap harinya.

Acara HATEDU berbeda dengan acara lainnya, yakni dalam hal HTM (Harga Tiket Masuk) yang tidak berupa uang, melainkan kue atau jajan siap konsumsi sebagai tiket masuk. Fahmy Hilmy Abdillah, salah satu panitia, menyampaikan bahwa acara ini berangkat dari hasil ‘ngamen’ teman-teman penyelenggara, namun tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang disajikan saat apresiasi seni, sehingga mereka berinisiatif untuk menjadikan jajan atau kue sebagai HTM penonton. “Itu kue kan, dari penonton dan untuk penonton saat apresiasi seni,” ungkap Fahmy.

Rangkaian acara HATEDU dibagi menjadi 3 hari. Hari pertama (28/3), HATEDU dibuka oleh penampilan musikalisasi puisi dari Jantung Teater, yang ditampilkan di depan pintu masuk Gedung PKM. Setelah itu, penonton disilakan untuk registrasi dan memasuki gedung.

Penampilan teater pertama kemudian disuguhkan, yakni monolog berjudul ‘Nayla’ dari Kurusetra yang diadaptasi oleh Savira Rizky Natasya dari cerpen karya Djenar Maesa Ayu dengan judul yang sama. Acara dilanjutkan dengan penampilan teater berjudul Badokan dari Studi Teater Jember, yang ditulis oleh Abdoel Aziz. Penampilan terakhir yakni penampilan khusus tamu dari Banjarmasin, diperankan oleh Yadi Muryadi dari Teater Kita.

Hari Kedua (29/3), penonton tidak lagi ditahan di depan pintu masuk dengan sebuah penampilan. Penonton dibolehkan registrasi dan langsung memasuki gedung. Penampilan pertama yaitu dari Teater Angsa yang berjudul Fermentasi Maling, dengan naskah yang ditulis oleh Syahrial Pradana. Dilanjutkan dengan teater dari Teater Lebus berjudul Kurma Kyai Karnawi, yang diadaptasi oleh Dwiyoso Nugroho dari cerpen karya Agoos Noer.

Hari terakhir (30/3), penonton menyerahkan HTM kemudian diminta berdiri di depan gedung PKM, untuk menyaksikan intro dari Teater Gelanggang yang berjudul Anatomi Botol. Dan sebagai penampilan penutup, Pawon Carklacer mempersembahkan penampilan musik.

“Acara ini sudah luar biasa, bisa terlihat dari kerjasama kawan-kawan (penyelenggara dan pengisi acara HATEDU). Menurut saya, sukses ini,” ungkap Yadi, salah satu pemeran. Menurutnya, penampilan-penampilan di hari pertama cukup bagus. Terlihat bahwa penampil memiliki latihan yang cukup. Tidak hanya dari ucapannya, tapi juga didukung oleh olah tubuh yang baik.

Winda Dewi, salah satu penonton yang merupakan mahasiswi jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya angkatan 2014, berpendapat bahwa mahasiswa atau penonton masih pasif. Menurutnya, mereka menonton hanya untuk melaksanakan tugas, atau alasan lain seperti ada temannya yang tampil memainkan peran. “Harapannya teater lebih diminati lagi, soalnya kan teater merupakan bentuk apresiasi seni. Dari teater kita belajar pemasalahan kehidupan sosial,” ungkap Winda. []

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password