Aksi Solidaritas Jember Mengenang Tujuh Hari Kematian Patmi

Aksi mahasiswa oleh 'Jember Solidaritas Kendeng' terkait isu pembangunan pabrik semen di Kendeng sekaligus mengenang tujuh hari kematian Patmi di Alun-alun kota Jember, Senin (27/3). (Foto: BINARY/Khaira)

Sebuah aliansi bernama Jember Solidaritas Kendeng menggelar aksi di Alun-alun Kota Jember, Senin (27/3). Aksi ini dilaksanakan sebagai bentuk solidaritas terkait penolakan pembangunan pabrik semen di kawasan pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Acara ini sekaligus memperingati tujuh hari meninggalnya Patmi (48), salah satu petani Kendeng yang memperjuangkan penolakan pembangunan tersebut dengan melakukan aksi Semen Kaki bersama beberapa petani dan warga Kendeng lainnya. Patmi meninggal pada tanggal 21 Maret 2017 diduga akibat serangan jantung.

“Jember Solidaritas Kendeng sebenarnya komunitas biasa yang lahir dari temen-temen, yang kemudian merasa ini penting sebagai aksi solidaritas dari masyarakat Jember terhadap apa yang terjadi terkait pembangunan pabrik semen di Kendeng,” terang Akbar Ridho Arifin, salah satu Koordinator Lapangan Jember Solidaritas Kendeng.

“Terbentuknya ini merupakan gabungan dari beberapa organisasi seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ada juga Komunitas Paguyuban masyarakat luar jember yang berada di Jember, juga ada peace leader, dan yang terpenting ada juga para pelajar di Jember.”

Akbar menuturkan, target dari kegiatan ini yang paling penting, Jember dapat belajar dari peristiwa Kendeng, karena Jember juga memiliki masalah ekologi dan ekosistem seperti adanya gumuk yang tereksploitasi dan tambang pasir. Menurut Akbar, adanya kasus Tumpang Pitu yang ada di Banyuwangi bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat Jember dan sekitarnya, agar tidak terjadi hal yang sama.

Atas apa yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, sekaligus Presiden Joko Widodo yang tidak berbuat tegas atas kebijakan yang dikeluarkan oleh Ganjar; Akbar menyatakan, Jember Solidaritas Kendeng menyesalkan dan mengecam hal tersebut. “Presiden sendiri menyerahkan kewenangan tersebut kepada gubernur, padahal sejatinya presiden juga memiliki kewenangan untuk kemudian mendesak dan berbuat tegas terhadap kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh gubernur,” tutur Akbar.

Yohana Rosita Dewi Mariyani (20), salah satu peserta yang hadir malam itu menanggapi, “Acaranya bagus sih, karena solidaritas dan rasa peduli kita terhadap apa yang telah diperjuangkan oleh Bu Patmi. Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Bu Patmi.”

Ia berharap, pemerintah khususnya Presiden Joko Widodo lebih membuka telinga untuk mendengarkan apresiasi dari masyarakat kelas bawah, “Karena miris sekali gitu lho. Kejadian Bu Patmi ketika dicor semen itu kan ada di depan Istana Merdeka. Kenapa beliau tidak meluangkan waktunya untuk mendengarkan sedikit keluh kesah dari ibu-ibu di daerah Kendeng,” jelas Yohana.

Untuk keberlanjutan aksi, Akbar menerangkan jika Jember Solidaritas Kendeng akan mengawal kasus ini dan melakukan langkah yang lain. “Kami juga akan melakukan langkah-langkah lain termasuk mengadakan aksi lagi, salah satunya. Kami juga akan melakukan advokasi terhadap kebijakan yang ada di Jember. Kami berkeinginan berdialog dengan DPR, kemudian mendorong terbentuknya Peraturan Daerah (Perda) soal gumuk,” ujarnya.

Aksi tadi malam dijaga oleh beberapa pihak keamanan. “Bagus kegiatannya. Cuma seharusnya, perizinan (dilakukan) tiga hari sebelumnya. Tapi kegiatan sudah berlangsung ya kita apakan. Tapi selama tidak mengganggu ketertiban, ya enggak apa-apa. Tapi saya rasa, seharusnya kegiatan menyampaikan pendapat di muka umum dilakukan siang hari,” terang Idham Kholid, Kepala Satuan Intelijen dan Keamanan (Kasat Intelkam) Polres Jember.

Menanggapi tentang perizinan, Akbar mengatakan jika hal tersebut memang dilakukan mendadak. “Ya, persiapan kami hanya dua hari. Ini sebenarnya kami lakukan untuk memanfaatkan momentum terhadap tujuh hari meninggalnya Bu Patmi, sehingga ini tidak boleh kita lewatkan,” terangnya.

Agenda acara dimulai pukul 18.00 WIB, terdiri dari penyampaian orasi yang tidak dibatasi oleh siapapun yang ingin bicara, teatrikal puisi, pernyataan sikap atas kebijakan pembangunan pabrik semen di Kendeng, dan doa bersama mengenang tujuh hari meninggalnya Patmi. Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan seperti Darah Juang, Buruh Tani, lagu kebangsaan –seperti Syukur, Padamu Negeri, dan Mengheningkan Cipta– oleh para peserta. Sebagai penutup aksi, peserta secara bergantian menaburkan bunga di foto Patmi, sebagai simbolisasi atas perjuangannya memperjuangkan hak petani Kendeng. []

Reporter: Khaira Ummah Junaedi Putri dan Elok Ayu Khasanah.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password