Diskusi Film “Miss Representation”: Objektifikasi Perempuan oleh Media

Sri Utami, salah satu penyelenggara, membuka acara pemutaran dan diskusi film bertajuk "Women (need) Rights". (Foto: Sebuah Project)

Tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) sejak tahun 1913. Di Jember, Sebuah Project mengadakan pemutaran dan diskusi film tentang perempuan. Diskusi bertajuk Women (need) Rights tersebut dilaksanakan pada hari Rabu malam (8/3) di Barista Sector XXVII, Jl. Bengawan Solo Jember. Acara tersebut direncanakan pukul 19.00. Namun baru pada pukul 19.45, acara tersebut baru dimulai; karena banyak peserta datang terlambat. Pembicara yang dihadirkan yaitu Prita HW, seorang penulis dan blogger; dan Dwi Pranoto, seorang penulis. Seorang ibu yang menjabat sebagai Ketua Museum Tembakau Jember, juga dihadirkan dalam diskusi, untuk berbagi pengalamannya sebagai sosok perempuan pemimpin yang ada di Jember.

Sri Utami, salah seorang dari tim Sebuah Project, menuturkan bahwa Sebuah Project bukan sebuah komunitas. Sebuah Project hanya berawal dari pertemanan yang sering melakukan pertemuan di Barista Sector XXVII tersebut. Lalu beberapa hari menjelang tanggal 8 Maret, tercetus ide untuk mengadakan acara diskusi film untuk memperingati Hari Perempuan Internasional. Sebuah Project terbentuk sebagai tim dadakan. “Miss Representation”, sebuah film dokumenter tentang perempuan dan media di America, menjadi film yang dipilih oleh Sebuah Project untuk ditayangkan dan didiskusikan. “Film dokumenter lebih real,” ujar Utami, “Itu sebabnya film dokumenter dipilih daripada film (biasa).”

Film yang ditulis dan disutradarai oleh Jennifer Siebel Newsom itu mengangkat isu dan mengulas tentang peran perempuan yang hanya didayagunakan dan dieksplorasi sebagai objek yang hanya dilihat dari kecantikan, kemolekan tubuh, dan seksualitasnya untuk kepentingan industri terutama industri media; baik media televisi, majalah, film, dan sebagainya. Perempuan hanya dipandang dengan seksisme dan dipandang sebagai subordinat, tanpa menimbang lebih jauh kemampuan sebetulnya dari perempuan yang bisa setara dengan laki-laki; baik dalam hal kepemimpinan, intelektual, politik, dan peran penting lainnya. Di penelitian yang ditunjukkan dalam film tersebut, kesempatan yang diberikan terhadap perempuan di berbagai bidang masih minim, rentan diskriminasi, dan tak jarang perempuan di dalam media hanya ditampilkan sebagai sosok yang bitchy, jahat, atau hanya berperan sebagai ibu rumah tangga yang berkutat di rumah dan dapur saja.

Prita HW, seorang penulis dan blogger, berbicara tentang film “Miss Representation” saat diskusi berlangsung. (Foto: Sebuah Project)

“Melihat film ini, berangkat dari bagaimana media berfungsi sebagai agama, karena media menginternalisasi norma, nilai, memberikan rule model pada masyarakat sebagai individu ataupun kelompok,” ujar Pranoto, salah satu pembicara. Pranoto menambahkan, media yang digambarkan dalam film tersebut kemudian memberikan gambaran bagaimana perempuan harus bersikap, harus berperilaku, harus bertindak. “Karena rule model atau model kontrak terutama media mainstream menghendaki demikian bahwa: apa yang penting dari seorang perempuan bukan apa yang ada di kepalanya, tapi apa yang ada di tubuhnya.”

Pranoto menjelaskan, apa yang dijabarkan dan dilawan oleh film “Miss Representation” yaitu media-media –mengutip Margareth Cho di dalam film tersebut– memperlakukan perempuan seperti tai, sampah, atau barang tidak berguna. “Perempuan-perempuan hanya dianggap sebagai seonggok daging yang menggiurkan dan menggairahkan. Seonggok perempuan hanya bisa menjadi eksis ketika dia eksis di mata laki-laki atau sistem patriarki,” ungkap Pranoto, “Tapi apa yang lupa, mestinya film ini juga mengejar dubur atau lubang dubur yang memproduksi tai itu. Kita bisa bercerita –bukan tidak disinggung dalam film ini, kita melihat bahwa korporasi-korporasi seperti MBC dan sebagainya yang ditayangkan, tapi kita tidak pernah melihat apakah korporasi-korporasi itu berperan dalam membentuk persepsi masyarakat.”

Beberapa tanggapan diungkapkan oleh beberapa peserta tentang film yang telah ditayangkan. Salah satunya yaitu dari Mohammad Sadam Husaen, peserta yang berasal dari komunitas Penahitam Jember. Sadam berpendapat, setelah melihat film tersebut, ia justru tidak melihat masalah perempuan dan laki-laki. Tapi ia melihat, seperti yang dikatakan oleh Pranoto, ada kontruksi besar yang dilakukan oleh media. “Saya melihat bahwa perempuan malah kadang juga melestarikan kontruksi tersebut. Entah tadi saya salah lihat di film atau enggak: di beberapa televisi atau stasiun televisi, disana ada beberapa perempuan yang bekerja di televisi itu dan mereka juga termasuk dalam korporasi besar televisi itu dan melestarikan kontruksi-kontruksi yang mungkin dianggap miring terhadap perempuan,” terang Sadam. “Saya kira film Miss Representation itu seharusnya tidak hanya menjelaskan tentang kontruksi besar media. Karena banyak kontruksi miring yang dilakukan selain media.”

Media memiliki peran yang sangat penting, tutur Utami, tidak hanya untuk fashion. Utami sepakat dengan salah satu pembicara bahwa media seperti agama, karena acuan masyarakat terhadap suatu informasi. “Kalau informasinya nggak bener, bisa salah, kita. Banyak perempuan yang dieksploitasi di media. Seperti yang kita lihat di film tadi, wanita harus seperti ini: harus kurus, harus rambut panjang, harus putih, harus cantik, segala macem. Padahal semua itu relatif. Cantik itu relatif.”

Menurutnya, perempuan dengan tubuh yang gendut pun bisa cantik. Pun dengan yang bertubuh pendek, cacat, dan bentuk kurang sempurna lainnya, itu juga cantik. “Perempuan sekarang ditodong dengan krim pemutih, pil pelangsing, dan lainnya. Cewek harus berpakaian feminim. Dalam berpakaian pun diatur. Aku pengen lewat film ini, mau kita berpakaian apa saja, mau kita seperti apa; itu hak kita. Bukan sosial yang menentukan kita harus seperti apa. Karena kita sudah berbeda-beda,” ujar perempuan yang pernah menempuh pendidikan di Program Studi Televisi dan Film, Universitas Jember, tersebut. []

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password