BEM dan Harapan Para Ormawa

Lampiran II Peraturan Rektor Universitas Jember tentang Struktur Organisasi Mahasiswa Tingkat Fakultas. Dari paling atas, struktur organisasi mahasiswa tingkat fakultas meliputi Dekan, Pembantu Dekan III, Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF), Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF). Di bawah BEMF terdapat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) atau Himpunan Mahasiswa Program (HMP). (Foto: Elok/BINARY)

Terpilihnya Edwin Octavian sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Program Studi Sistem Informasi (PSSI) periode kedua, menumbuhkan harapan baru di kalangan mahasiswa, termasuk di kalangan organisasi mahasiswa (ormawa) PSSI lainnya. Edwin terpilih menjadi Ketua Umum baru BEM setelah dilakukan kegiatan Pemilihan Umum (21/11) yang diadakan oleh Voice of Change (VoC), panitia bentukan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) PSSI. “Saya bersyukur Edwin terpilih. Tapi siapapun dari mereka, itu yg terbaik,” tutur Andry Dermawan, Ketua Umum HIMASIF. (Baca juga: Edwin Octavian Terpilih Sebagai Ketua Umum Baru BEM.)

Beberapa hari sebelum diadakan Pemilihan Umum, VoC mengadakan Debat Kandidat Ketua Umum BEM periode 2016/2017. Proses debat tersebut tak luput menjadi patokan akan seperti apa BEM PSSI pada periode berikutnya. Salah satu hal yang menjadi pembahasan di ujung kegiatan debat tersebut yaitu tentang apa tupoksi (tugas pokok dan fungsi) BEM yang sebetulnya.

Marceli Aditya Tanujaya, Ketua BPM, menuturkan kekecewaannya karena pembahasan debat yang dari awail hingga ditutupnya pertanyaan dari audience, hanya tentang event-event yang diadakan oleh BEM selama setahun kepengurusan. “Aku datang kesini itu bingung mau milih siapa, dari (kandidat) 1, 2, atau 3. Setelah lihat (proses debat) kalian, aku tambah nggak mau pilih. Karena apa, karena dari tadi yang kita bahas event, event, dan event. BEM, itu nggak cuma event,” tutur Marceli setelah mendapat waktu tambahan dari pembawa acara saat acara debat hampir diakhiri, “Kalian ngerti nggak, tupoksinya BEM itu apa?” tanyanya.

Jawaban-jawaban dilontarkan oleh para kandidat. Rifqiy, kandidat Ketua BEM nomor 1, menjawab bahwa BEM itu badan eksekutif, bukan eksklusif; dan BEM ada untuk menampung semua aspirasi yang ada di fakultas. Hal yang hampir serupa dikatakan oleh Edwin, kandidat nomor 3, “Apa itu BEM, sebenarnya saya juga nggak tahu, tidak menyalahkan. Tapi aku sendiri ngerti, BEM adalah organisasi untuk menampung semua yang ada di kampus. Nggak cuma sekadar mengadakan event, tapi dari diri kita sendiri berdekatan dengan UKM-UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).” Sedangkan Galuh, kandidat nomor 2, menuturkan bahwa BEM itu berfungsi untuk menjalin kekeluargaan bagi semua mahasiswa, untuk berkembang dan berkompetisi di luar. “Itulah kenapa saya ingin mengadakan suatu event yang bersinergi dengan seluruh ormawa, itu tugasnya BEM menurut saya,” tambahnya.

Dalam sebuah kesempatan wawancara yang kami lakukan, Marceli menjelaskan tentang kekecewaannya, “Dari debat kemarin aku kecewa, jujur aku nggak pengen milih siapa-siapa. Tapi itu sebetulnya bukan pure salah mereka bertiga, dari pembaca acara sendiri pun yang dibahas cuma tentang acara, acara, dan acara terus. BEM itu ranahnya luas, mulai dari koordinasi, mengurusi dengan pihak akademik, dan lain-lain lah,” jelas Marceli. “Dan jawaban dari mereka menurutku ngawur.”

Marceli berkata bahwa sebetulnya ia kurang mengetahui tupoksi BEM PSSI yang dibuat oleh BEM kepengurusan pertama. “Aku bacanya cuma tugas pokok dari SK (Surat Keputusan) Rektor, BEM Fakultas itu kayak gini. Nah, adaptasinya aku nggak tahu bagaimana. Aku pikir mereka (kandidat) salah satu menjawab, ‘Tupoksi BEM itu untuk mewadahi aspirasi mahasiswa fakultas Ilmu Komputer.’ Ayolah, itu bukan tupoksi kalian, itu tupoksi BPM,” tutur Marceli.

Adapun Peraturan Rektor Universitas Jember Nomor 3256/UN25/TU/2015 tentang Pedoman Organisasi Kemahasiswaan Universitas Jember pasal 8 ayat 3, mencantumkan tugas BPMF/Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas meliputi:

  1. Menyerap dan merumuskan aspirasi mahasiswa di fakultas dan menyalurkan kepada BEMF.
  2. Menjalin koordinasi dengan BPMF di Fakultas lain.
  3. Mengawasi dan mengevaluasi kegiatan BEMF serta melaporkan kepada Dekan.
  4. Menetapkan garis-garis besar program dan kegiatan kemahasiswaan.

Pada pasal 8 ayat 4, dijelaskan pula tugas BEMF/Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas adalah sebagai berikut:

  1. Melaksanakan segala ketetapan dari BPMF.
  2. Membuat keputusan-keputusan yang dianggap perlu dalam pelaksanaan kegiatan mahasiswa Fakultas.
  3. Mewakili mahasiswa Fakultas baik ke dalam maupun ke luar Fakultas.
  4. Melaksanakan rapat kerja bersama UKM Fakultas dan HMJ/HMP sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun.

Sedangkan tugas pokok HMJ/HMP (Himpunan Mahasiswa Program) pada pasal 8 ayat 6 adalah sebagai pelaksanaan kegiatan di tingkat jurusan yang mempunyai tugas merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan keilmuan dalam jurusan /program di bawah koordinasi BEMF.

Kekurangan BEM di Periode Pertama Adalah Hal Wajar

“Ketika kita sudah mendapatkan jawaban, itu ada hal yang namanya kebaikan dan tantangan yang harus dibenahi. Di jamannya Dias (Ketua Umum BEM sebelumnya), itu masih banyak yang namanya PR (Pekerjaan Rumah): PR untuk koordinasi, PR untuk menyelaraskan pemikiran antarUKM, himpunan juga,” ujar Andry.

Sementara itu, Dias Novsa Pradana, Ketua Umum BEM sebelumnya, menjelaskan bahwa BEM PSSI sebagai organisasi yang baru pertama ada, tidak bisa apabila diharapkan langsung tiba-tiba benar, karena yang dipimpin BEM dan Himasif adalah sama, yaitu PSSI; dan untuk pertama kalinya BEM dan Himasif dipisah. “Kita masih awal, kita masih banyak belajar. Harapan saya ke Edwin ini bisa mbenerin, maksud saya BEM di kepengurusan saya masih belum jelas tupoksinya seperti apa, dan kita sedang membenarkan AD/ART (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) kita biar sesuai sama tupoksi pada umumnya BEM,” tuturnya. Dias juga menjelaskan, pemahaman BEM masih sama dengan Himasif, karena dulu masih menjadi satu organisasi.

Serupa dengan Dias, Marceli juga berpendapat bahwa kekurangan BEM di periode pertama adalah hal wajar, “BEM ini kan masih tahun pertama, jadi (kepengurusan) Edwin ini tahun kedua. Jadi penilaian saya tentang yang masih pertama masih wajar lah di tahun pertama; banyak missed-nya, banyak kurang mengayomi, atau kurang tepat sasaran, sampai kadang kurang paham –bukan tidak tahu— tentang tupoksinya bahwa sebuah organisasi bernama BEM; itu masih wajar lah.” Marceli berharap, BEM di kepengurusan yang baru, bisa mulai memahami tupoksinya lagi, “jadi ndak berkutat pada eveeent terus. Dari dulu kan culture-nya, event itu sebagai salah satu tolak ukur,” tambahnya.

BEM Harus Belajar Lagi Tentang Tupoksi

Tentang terpilihnya Ketua Umum BEM yang baru, Akbar Ma’rifat, Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian (UKMK) Etalase, mengungkapkan, “Harapan saya supaya lebih mempelajari lagi seperti apa itu BEM, terus tupoksi-tupoksinya seperti apa. Karena tidak bisa menjalankan suatu organisasi itu dengan menurut diri sendiri, tapi harus sesuai dengan tupoksi yang sudah ditentukan.” Selain itu, Akbar berharap Ketua Umum BEM yang baru dapat mempelajari lagi seperti apa tugasnya BEM ke ormawa, terutama ke UKM.

Andry menambahkan, “Harapannya ke Ketum (Ketua Umum) baru, dia banyak belajar dulu, harus banyak belajar bagaimana regulasi pada organisasi. Kita bisa lihat debat, ternyata mereka masih belum mengerti tupoksi BEM. Lengkapnya tupoksi itu, coba diimplementasikan secara penuh dan maksimal. Sehingga harapannya BEM ini nantinya akan benar-benar mengkoordinasi, akan benar-benar ikut menaikkan intensitas, menaikkan hal-hal yang luar biasa; hal-hal yang patut di-push oleh BEM dari UKM atau HIMA (Himpunan Mahasiswa).”

Menurut Marceli, BEM di kepengurusan periode pertama sudah sesuai dalam menjalankan tupoksi, namun masih memiliki beberapa kekurangan. “Masih kurang perform-nya, kurang intensitasnya. Misal hubungan dengan UKM, itu harus diperbaiki lagi, lebih diawasi, lebih dikontrol. Baik dengan BPM juga, koordinasi BEM dan BPM masih jarang, masih bingung koordinasinya harus bagaimana; tapi belakangan ini sudah jelas model koordinasi seperti apa, prosedurnya seperti apa, sudah ada kesepakatan. Jadi harapannya, BEM di periode kedua lebih enak relasinya, terutama koordinasi, misal BEM dengan BPM, BEM dengan HIMA, BEM dengan UKM.”

Dias membenarkan bahwa BEM harus belajar lagi mengenai tupoksinya, “Itu sangat benar, karena mengingat BEM ini baru pertama ada,” ujarnya. Sedangkan menurut Edwin, saat ini BEM belum sesuai tupoksi. Hal itu dikarenakan BEM baru memulai dengan sesuatu yang besar. “Dulu kan kita hanya himpunan setara BEM, sekarang sudah ada BEM dan himpunan. Tentunya masih sama-sama saling interaksi, sama-sama bagi tugas. Bagi saya sendiri, wajar untuk kebingungan masalah tentang tupoksi-tupoksi tersebut.”

Sebagai mahasiswa yang pernah menjadi anggota BEM periode pertama, Edwin juga menjelaskan, tupoksi tidak diajarkan secara teori. “Tupoksi secara teori, enggak. Tapi kita langsung secara praktek. Karena mungkin kemarin-kemarin masih banyak kesibukan sendiri-sendiri. Tahun atasan kemarin, banyak yang sebagai orang-orang penting di kampus kita. Jadi aku belajar tupoksi-tupoksi itu secara tersirat, dalam bentuk event, dalam bentuk proker (program kerja), dalam bentuk ketika menghadapi mahasiswa, dan sebagainya,” tambahnya.

BEM dan Banyaknya Event yang Diadakan

Tak hanya tentang tupoksi yang dianggap belum paham, BEM diharapkan dapat mengkaji lagi tentang event yang menurut beberapa ormawa terlalu banyak untuk diadakan. Marceli sebagai Ketua BPM berpendapat bahwa seharusnya setelah ada perubahan strata yang ditandai dengan adanya BEM dan HIMA, eventevent yang diadakan oleh BEM bisa dibagi. “BEM itu yang diurusi bukan cuma event. Malah kalau bisa, yang ngurusi event itu HIMA, jadi mereka yang jadi penggeraknya,” tuturnya.

Marceli berpendapat, BEM justru memiliki tugas yang lebih banyak, berkaca dari kampus-kampus lain. “Yang paling penting, event-nya SI (Sistem Informasi) tolong jangan ditambah, tapi dikaji lagi mana yang bisa dilanjutkan, mana yang bisa dibagikan ke ormawa lain, supaya event tersebut tepat arah dan tujuannya.” Tujuan pembagian tersebut, menurut Marceli, agar kerja BEM dapat maksimal, dan BEM dapat pure mengurusi hal-hal yang sejalan dengan arusnya. “Terus yang anggapannya event tahunannya kalian sudah dikasihkan ke HIMA misalnya, terus kasihkan ke siapa. Otomatis tugas kalian (BEM) lebih sedikit, bisa lebih maksimal yang pasti. Jadi nggak ada alasan mengeluh kekurangan SDM,” tambahnya.

Dias menjelaskan, “Aku sendiri sadar, itu harus di-manage sebaik mungkin. Aku insyaallah akan menyarankan (kepada BEM kepengurusan baru) untuk menguranginya, dan lebih ke bagaimana bekerjasama dengan ormawa lain. Mungkin kayak di di FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat), itu ada Bulan Kesehatan Jember, yaitu serangkaian kegiatan yang diisi oleh seluruh UKM di FKM. Jadi bisa lah nanti dikoordinir dengan ormawa lain, BITS (Bulan IT Sistem Informasi, event tahunan BEM sejak Himasif setara BEM) itu bisa menjadi serangkaian acara yang diadain ormawa-ormawa. Mungkin seperti itu, jadi semua sama-sama rata.”

Senada dengan Dias, Edwin sebagai Ketua BEM terpilih juga menyadari banyaknya event yang diadakan oleh BEM di periode pertama, “Saya sudah menyadari itu, kita terlalu banyak event. Jadi untuk kedepannya sendiri, meminimalkan event, tapi di event itu sendiri maksimal, ada maknanya. Bukan mengurangi, tapi lebih meringkas, yang hampir sama dijadikan satu. Misal ormawa-ormawa ada event yang hampir sama, kita collapse.” Edwin juga memberikan penjelasan tentang event yang seharusnya lebih banyak diadakan oleh HIMA, “Jadi emang benar, himpunan lebih banyak prokernya; kita hanya koordinasi, sebagai penanggungjawab. Jadi nanti kita sharing dengan himpunan; bagianmu yang mana, bagianku yang mana; benar-benar kita bagi. Aku sendiri berharap BEM nanti bukan sebagai pelaksana, tapi sebagai koordinator. Jadi BEM yang mengawasi, bukan yang melaksanakan,” tuturnya.

Proses belajar akan terus dilakukan. Beberapa solusi juga dilontarkan agar BEM kedepannya semakin paham tentang tupoksi dan memaksimalkan kinerjanya. “Kalau aku sudah ngewanti-wanti tentang AD/ART ini. Jadi memang kondisi di PSSI ini dengan fakultas lain beda kan. Cuma, aku sudah dapat AD/ART dari BEM lain, yang nanti bakal aku jadiin gambaran ke teman-teman pas AD/ART-an. Jadi paling enggak, teman-teman di akhir kepengurusan sudah punya gambaran mau dibawa kemana BEM nanti di jamannya dia. Mungkin aku juga bakal menjelaskan, ini lho BEM disana seperti itu AD/ART-nya. Silakan dipelajari. Kebetulan temen-temen BEM lain sangat terbuka,” ujar Dias.

Edwin menegaskan, “Kalau dari saya sendiri, belajar sudah, mendalami sudah. Mungkin harus lebih aktif lagi, mencari lagi apa sih jati diri BEM itu, fungsinya apa apa sih untuk kampus kita itu, yang lebih tepat,” ujarnya. Terkait permasalahan BEM tersebut, Edwin telah memiliki beberapa solusi yang akan dilakukan oleh BEM di periode kepengurusannya. “Mencari referensi ke atasan saya, cari referensi ke semua ormawa yang ada di kampus, kemudian saya mencari referensi di luar kampus. Jadi seperti sharing-sharing, sarasehan, solusi saya saat ini seperti itu.”

Andry mengungkapkan harapannya tentang seluruh ormawa di PSSI, “Jadi nantinya –kan saya entar nantinya mau purna, jadi– harapan saya adalah organisasi-organisasi yang ada di Ilmu Komputer; Himpunan dan UKM, lainnya juga; itu semuanya dalam posisi tinggi. Harapan saya seperti itu. Ingin sekali seperti itu. Nggak ada yang namanya yang saling ditinggal, nggak ada yang namanya diagungkan, nggak ada yang namanya ditinggikan di salah satu. Jadi semuanya usaha untuk naik, itu terkoordinasi oleh BEM. Itu harapan saya yang luar biasa,” tutur Andry, “dan saya menantikan dari BEM, inovasi dan kreativitasnya dalam berorganisasi.”

Edwin mengatakan bahwa kedepannya, BEM insyaallah lebih baik. Tidak ada lagi  ‘BEM itu harus bagaimana?’ atau ‘Ormawa harus bagaimana?’. Pada kepengurusannya, ia berharap, semua sudah tepat pada jalannya. “Koordinasi untuk ormawa, saya ingin kita dalam satu suasana, bersama-sama, semua saling terbuka. Kalau ada masalah, kita bareng-bareng, karena kita satu kampus, satu wilayah. Kalau misal ada yang kurang, ayo bantu yang kurang. Kalau ada yang lebih, ayo untuk yang lebih, kita bantu yang kurang. Jadi aspirasi benar-benar ada, jangan sampai ada sikut-sikutan di belakang. Kita masih satu keluarga.”

Selain itu, Edwin menuturkan bahwa ia mengharap bantuan dan kerjasama dengan sangat baik dari warga kampus Ilkom, “Saya sendiri ingin membuat kampus ini mempunyai nama, sampai nama Universitas Jember. Jangan sampai, kita di luar punya nama, tapi di dalam kita tidak ada apa-apanya, jadi harus imbang. Aku pengennya, di internal kita benar-benar keluarga, sama-sama ormawa membangun Ilmu Komputer lebih baik lagi, lebih maju, lebih visioner; agar terlaksana minat dan bakat mahasiswa lebih baik,” ujar Edwin. []

1 Comment

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password