Debat Calon Ketua HIMASIF 2016 Menuai Berbagai Komentar

Debat Calon Ketua HIMASIF yang diadakan melalui Voice of Change (VOC). (Foto: Ludfi Ika/BINARY)

VOC (Voice of Change) merupakan serangkaian acara yang diadakan oleh BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) Program Studi Sistem Informasi (PSSI) Universitas Jember (UNEJ) untuk memfasilitasi pemilihan umum Ketua HIMASIF (Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi) dan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Sehingga dengan dibentuknya acara VOC oleh BPM, diharapkan pemilihan umum ketua ORMAWA (Organisasi Mahasiswa) lebih jujur, netral, terorganisir, dan dapat meminimalkan tindak kecurangan. Begitulah yang disampaikan oleh Marceli Aditya selaku ketua BPM. Salah satu dari rangkaian kegiatan VOC yaitu Debat Calon Ketua HIMASIF yang dilaksanakan pada hari Jumat, 4 November 2016.

Melalui poster yang dibagikan di media sosial, panitia VOC mengundang semua mahasiswa jurusan Sistem Informasi UNEJ untuk ikut serta sebagai audience dalam acara tersebut. Di poster tertulis bahwa acara akan dimulai pada pukul 18.00, namun acara baru dimulai pada pukul 19.37. Waktu debat yang dinilai sebentar, membuat beberapa audience merasa kecewa, karena debat hanya berlangsung satu setengah jam. “Saya kecewa dengan waktu debat yang terlalu singkat, karena saya masih belum mendengar jawaban-jawaban bagus yang saya harapkan dari para calon,” tutur Irfan, perwakilan dari angkatan 2015.

Acara debat diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan sambutan dari Christian sebagai ketua panitia VOC, Andry Dermawan sebagai ketua HIMASIF, dan Yanuar Yazid selaku perwakilan dosen PSSI. Ketika menyampaikan sambutan, Ketua Panitia menuturkan harapannya bahwa dengan adanya acara Debat Calon Ketua HIMASIF, akan menghasilkan keterbukaan para calon dengan seluruh mahasiswa PSSI, sehingga mahasiswa dapat lebih mengenal para calon. Andry Dermawan menyampaikan dalam sambutannya bahwa HIMASIF PSSI saat ini telah bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Sistem Informasi Indonesia (IMSII). Yanuar Yazid juga menyampaikan bahwa siapa saja yang akan terpilih diharapkan akan membawa PSSI jauh lebih baik.

Setelah sambutan, debat singkat dibagi menjadi tiga sesi, dipimpin oleh Yuca selaku moderator. Pada sesi pertama para kandidat Ketua HIMASIF mengutarakan visi misinya, sesi kedua yaitu debat, dan pada sesi ketiga yaitu audience feedback.

Sesi kedua diawali dengan pertanyaan moderator mengenai kesiapan para kandidat. Semua kandidat menjawab siap. “Apa yang akan kalian pilih jika menjadi Ketua HIMASIF, kuliah atau organisasi?” tanya Yuca. Calon nomor 3, Abbi Nizar, mengatakan bahwa ia lebih memilih kuliah; namun organisasi juga penting untuk menunjang kuliah. Calon nomor 1 yaitu Hammam Iqomatuddin menjawab bahwa dia memilih keduanya, karena menurutnya, keduanya harus berjalan sejajar. Bratasena sebagai calon nomor urut 2 memilih organisasi, karena bila ia terpilih menjadi ketua, ia siap berjuang untuk organisasi HIMASIF. Sedangkan calon nomor urut 4, Nugroho Prasetyo, hanya menjawab singkat, “Kuliah, karena dengan kuliah bisa berorganisasi.”

Pertanyaan kedua yang diutarakan oleh Yuca yaitu mengenai pasca pemilu. Mengingat para kandidat berasal dari angkatan yang berbeda, dikhawatirkan akan terjadi penolakan dari angkatan yang berbeda dengan kandidat yang terpilih menjadi Ketua HIMASIF. Tiga kandidat mengatakan bahwa mereka mendukung penuh visi misi dan program kerja dari siapapun Ketua HIMASIF yang terpilih. Namun, kandidat nomor 4, Nugroho Prasetyo yang berasal dari angkatan 2014, menolak apabila yang terpilih adalah angkatan 2015 yang ia nilai masih terlalu dini. “Penolakan pasti ada, tapi itu bertujuan agar kandidat yang terpilih menjadi lebih baik lagi,” jelas Nugroho mengenai penolakannya.

Sesi selanjutnya yaitu audience feedback. Pada sesi ini, audience dapat bertanya kepada masing-masing calon Ketua HIMASIF. “Apa yang kalian pilih, menjadi seekor harimau atau seekor bebek?” tanya Irfan, salah satu audience. Semua kandidat menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu memilih bebek. Salah satu alasan yang dikemukakan kandidat adalah, bebek tidak menggunakan kekerasan ketika mengayomi anak-anaknya.

Keempat jawaban yang sama dari semua kandidat tersebut membuat Irfan kecewa, “Sebenarnya saya menunggu kandidat menjawab memilih harimau. Karena harimau hidup bebas dan harusnya pemimpin bersikap begitu, agar tau mana yang benar dan tidak. Sedangkan bebek hidup dengan mengekor. Bila pemimpinnya salah, ia akan tetap mengikuti,” ujar Irfan.

“Kata siapa bebek dididik dengan halus? Anak bebek yang tidak bisa berenang loh langsung ditinggal dengan induknya dan dibiarkan mati tenggelam,” tutur Yosafat, mahasiswa angkatan 2012, ketika diwawancarai setelah acara debat mengenai jawaban para kandidat yang lebih memilih bebek dari pada harimau –yang menurut para kandidat, bebek dididik dengan halus.

Pertanyaan lainnya untuk para kandidat diutarakan oleh Yudha Herlambang dari angkatan 2012, “Menurut kalian siapa yang pantas menjadi ketua HIMASIF selain diri kalian sendiri?” Para kandidat menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda, namun menjadi hal yang berbeda ketika moderator mengubah pertanyaannya menjadi: Siapa yang tidak pantas menjadi ketua HIMASIF diantara keempat kandidat? Kandidat nomor 1, Hammam, memiliki jawaban yang sama dengan jawaban atas pertanyaan sebelumnya. Hammam menjawab, yang pantas menjadi Ketua HIMASIF adalah Bratasena. Ketika ditanya siapa yang tidak pantas menjadi Ketua HIMASIF, Hammam juga menjawab: Bratasena.

Sesi ketiga ditutup dengan kesimpulan jalannya diskusi yang disampaikan oleh Meili Noni selaku panitia. Dalam kesimpulan yang disampaikan, Meili mengatakan bahwa pada intinya semua kandidat telah siap untuk menjadi ketua HIMASIF periode mendatang.

Kegiatan debat yang telah berlangsung menuai tanggapan yang berbeda-beda dari mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Beberapa mahasiswa menilai bahwa mereka telah puas, jalannya debat telah sesuai dengan harapannya. “Saya cukup puas dengan debat kemarin (4/11). Menurut saya, jalannya debat telah terkoordinir, walaupun jamnya masih molor. Mungkin karena pengumuman diadakannya debat terlalu singkat. Kan baru diumumkan satu hari sebelumnya,” tutur Ichsanul Karim tentang jalannya debat. “Untuk acara lumayan lancar, dan seperti debat-debat yang lain, debat yang tadi malam lumayan riuh ramai dari pendukung keempat pihak,” tanggap Albert, mahasiswa angkatan 2013.

Beberapa mahasiswa merasa tidak puas dan menilai jalannya debat masih jauh dari harapan. Menurut Dimas Arifianto (2012), pembawaan moderator dalam mengarahkan jalannya debat kurang pas, sehingga karakter para kandidat kurang terlihat. Senada dengan Dimas, Hipolitus Kresna (2012) juga menuturkan hal yang serupa, “Menurutku debatnya masih jauh dari yang aku harapkan. Mungkin karena pembawaan MC/moderator-nya yang kurang menarik. Jadi ada beberapa titik yang membosankan.”

Tanggapan kekecewaan juga diutarakan oleh Yosafat, ”Tadi itu debat, atau acara OVJ (Opera van Java)? Semua kandidat tidak ada keseriusan.” Menurutnya, kandidat yang menjadi poin utama dalam debat dianggap guyon ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan saat debat. Para kandidat juga terkesan kurang serius dalam menjawab pertanyan.

“Seharusnya sih mereka (kandidat) bisa mengeluarkan jawaban yang lebih bisa meyakinkan, berkualitas, atau lebih mantep lah. Tapi entah kenapa setiap kali menjawab pertanyaan kok kayaknya mereka kurang maksimal gitu,” ujar Dimas. Wenny Hardiyanti, mahasiswa angkatan 2013, berpendapat bahwa beberapa calon masih kurang serius. Ia lebih berharap apabila para kandidat tersebut benar-benar menanggapi serius dan jawabannya lebih menunjukkan kalau mereka memang pantas menjadi seorang pemimpin. Menurutnya, jabatan sebagai Ketua HIMASIF bukan jabatan yang main-main. []

Musdalifa Ifaliyani3 Posts

Mahkota Jurnalis

Seni Tuhan

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password