UKMK Etalase Tampilkan Pekan Seni Tentang Jember

Salah satu adegan ketika Mentari akan disekolahkan dan diantar oleh kedua orang tua angkatnya. Ia dititipkan kepada seorang guru. Mentari adalah tokoh utama yang merupakan jelmaan tembakau, yang mengalami kasus bullying dari teman-teman sekelasnya. (Foto : Glen/ETALASE)

Sabtu (15/10) Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian (UKMK) Etalase Program Studi Sistem Informasi (PSSI) mengadakan Pekan Seni yang bertajuk EKSEN 2016 ”Selayang Angan Mentari” bertempat di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember. “EKSEN merupakan agenda tahunan dari UKMK Etalase. Bentuknya ada pementasan semua bidang yang meliputi paduan suara mahasiswa (PSM), musik, tari, teater dan pameran fotografi,” tutur Akbarrul Mahrifat,  Ketua Umum UKMK Etalase 2016. Pekan Seni ini dihadiri oleh beberapa UKMK se-Jember, Unit Kegiatan Mahasiswa, dan Organisasi mahasiswa PSSI lainnya.

Pukul 14.30 WIB bertempat di halaman depan gedung PKM, EKSEN 2016 dibuka dengan pameran fotografi. Banyak dijumpai foto yang menampilkan pembuatan batik di rumah batik Rolla Jember serta pameran budaya Jember Fashion Carnaval (JFC) yang berhasil diabadikan. Ini adalah kali kedua UKMK Etalase mengadakan EKSEN yang bertujuan sebagai bentuk aplikasi bakat-bakat dari personel UKMK Etalase dan sebagai ajang untuk mempererat rasa persaudaraan dan kekompakan. Tema yang diangkat kali ini tentang kota Jember. Menurut Akbar, mayoritas sebagai warga Jember jarang memperkenalkan Jember dengan segala potensi yang dimilikinya seperti tembakau. Maka dari itu UKMK Etalase ingin memperkenalkan kota Jember melalui sebuah karya.

Pukul 19.20 WIB memasuki agenda kedua, yaitu pementasan EKSEN 2016. Acara dimulai dengan sebuah teater yang menceritakan sepasang suami istri yang menemukan seorang bayi didekat tanaman tembakau. Bayi tersebut diberi nama Mentari. Kurang lebih selama dua jam penonton diajak menyaksikan kisah Mentari yang beranjak dewasa, menjadi korban bullying, hingga mempunyai teman lelaki baik yang membuatnya berani dan percaya diri bergabung dalam pagelaran desa. Tiba-tiba bencana alam terjadi, gempa meluluhlantahkan desa hingga memakan banyak korban dan tumbuh-tumbuhan mati rata dengan tanah. Mentari yang notabene jelmaan tembakau terlihat sedih dan memilih mengorbankan nyawanya agar tumbuh-tumbuhan kembali hidup. Banyak talent yang dihadirkan seperti penampilan tari tradisional Labako, modern dance, pembacaan puisi, paduan suara, dan live music.

Tokoh Mentari yang diperankan oleh Dheta sedang menari dan perlahan-lahan menyerahkan jiwanya untuk menyelamatkan tumbuh-tumbuhan rusak di desa. (Foto : Glen/ETALASE)
Tokoh Mentari yang diperankan oleh Dheta sedang menari dan perlahan-lahan menyerahkan jiwanya untuk menyelamatkan tumbuh-tumbuhan rusak di desa. (Foto : Glen/ETALASE)

Pukul 21.40 WIB serangkaian acara selesai dan memasuki segmen apresiasi dari penonton yang hadir. EKSEN 2016 menuai pujian terkait konsep acara dan talent yang disuguhkan terutama tari Labako. Beberapa kritik terkait teknis penampilan juga disampaikan. “Paduan Suara Mahasiswa-nya sayang suaranya kurang keras,” ungkap salah satu audience yang berasal dari Janter (Jantung Teater) Fakultas Hukum Universitas Jember.

Agustin Novita Sari, Ketua Panitia EKSEN 2016, mengungkapkan pesan yang ingin disampaikan dari pementasan yang telah disuguhkan, yaitu untuk menggugah rasa kepedulian manusia terhadap alam yang semakin tua. “Pekan seni ini merupakan penampilan fiksi dari perwujudan kota Jember yang terkenal sebagai kota tembakau,” imbuh Agustin.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password