Dies Natalis Ke-29, LPMP Plantarum Luncurkan Website dan Adakan Diskusi Film

(14/10) Diskusi film dokumenter "Rayuan Pulau Palsu" oleh LPMP Plantarum Universitas Jember. (Foto : Musdalifa/BINARY)

Jumat, 14 Oktober 2016, Lembaga Pers Mahasiswa Pertanian (LPMP) Plantarum mengadakan kegiatan Launching Website PlantarumOnline.com dan Ngaji Film “Rayuan Pulau Palsu”. Kedua kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Graha Sabha Wyawasaya Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember dan mengundang seluruh mahasiswa Fakultas Pertanian, Pers Mahasiswa se-Jember, Unit Kegiatan Mahasiswa, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan di Fakultas Pertanian. Launching Website PlantarumOnline.com direncanakan pada jam 13.00 WIB. Namun, sekira pukul 14.10, acara tersebut baru dimulai.

Rangkaian kegiatan tersebut memiliki tagline: Mencari Jejak. “Plantarum ingin mencari jejak alumni yang terdahulu,” ujar Irvan Andriko Sinaga selaku Pemimpin Umum Plantarum dalam sambutannya. Kedua kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan LPMP Plantarum untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-29, termasuk kegiatan intern Temu Kangen Alumni yang akan diselenggarakan hari ini (15/10).

Yeni Anggun, Pemimpin Redaksi LPMP Plantarum, mengungkapkan bahwa inisiatif mengubah blog –yang sebelumnya sudah menjadi media online Plantarum– menjadi sebuah website bertujuan agar menumbuhkan kembali semangat anggota Plantarum yang baru, menjaga eksistensi media, dan agar pihak luar dapat mengakses media Plantarum. Yeni juga menambahkan, di media daring Plantarum tersebut tidak menutup kemungkinan akan mengangkat permasalahan tingkat nasional, baik tentang pertanian maupun nonpertanian.

Acara dilanjutkan dengan kegiatan Ngaji Film Dokumenter “Rayuan Pulau Palsu” yang dimulai sekitar pukul delapan malam. Karena sikap pasif peserta di awal diskusi, Mia (salah satu pemantik) meminta peserta diskusi secara bergiliran menanggapi pertanyaan pemantik atau mengemukakan pendapatnya. Sikap pro dan kontra pun muncul dari peserta mengenai reklamasi teluk Jakarta dan polemiknya. Beberapa mengemukakan sikap menolak reklamasi, karena reklamasi akan merugikan warga nelayan yang sudah bertahun-tahun tinggal di wilayah tersebut dan berdampak negatif pada ekosistem.

Sikap pro reklamasi diungkapkan oleh Adi Hardianto, peserta diskusi yang berasal dari Lembaga Pers Mahasiswa Ekonomi (LPME) Ecpose Universitas Jember. Adi mengungkapkan bahwa adanya reklamasi sebetulnya hal yang bagus. “Dari segi ekonomi, itu bisa jadi sebaran atau titik perekonomian baru, ketika disana ada kehidupan baru nantinya. Jadi mungkin bisa jadi solusi.” Adi juga menambahkan, tanah kosong sekarang sulit dicari, bahkan untuk pemakaman pun harus memperpanjang. Menurut asumsinya, apabila nanti direklamasi, bakal ada semacam dermaga. Nelayan tetap bisa melaut. “Saya pro (dengan kebijakan reklamasi) kalau dilihat dari segi ekonomi, ada keuntungan yang cukup,” tambahnya.

Sikap yang berbeda dari Adi diungkapkan oleh Amien Rosyadi, Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Manifest, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. “Saya sangat tidak sepakat dengan pernyataan itu yang katanya itu akan memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dan menjanjikan. Kita lihat tayangan itu sendiri, dari awalnya membutuhkan bahan bakar solar lebih banyak, karena jarak yang ditempuh lebih jauh. Dan juga dari tangkapan hasil lautnya itu juga semakin rendah dan tidak menutup nilai ekonomis dari nelayan itu,” kata Amien. Menurutnya, reklamasi bukan menaikkan kesejahteraan rakyat bawah, justru akan menyingkirkan mereka dengan menggusur dari tempat tinggalnya. Selain itu, lokasi pulau Seribu yang akan dijadikan tempat tinggal baru warga Muara Angke (daerah yang terkena imbas reklamasi pulau G) secara geografis justru akan meletakkan warga semakin jauh dari pusat kota Jakarta. “Dari kita sebagai mahasiswa yang katanya agent of change, bila fenomena ini, bila kebijakan pemerintah yang menjatuhkan rakyat bawah, apa yang akan kita lakukan? Apakah dengan mendukung reklamasi seperti Mas Adi tadi, atau kita mengawal isu tersebut? Nah itu yang perlu dibuat tegas lagi bagaimana tanggapan kita sebagai mahasiswa melihat kondisi yang seperti itu,” imbuhnya.

Muhammad Sholehuddin, Redaktur Pelaksana Media Online dan Artistik Plantarum, mengambil sikap dari sudut pandang yang berbeda. Ia mengajak peserta lain untuk mencoba menempatkan diri di posisi pemerintah dan pengembang. “Dari segi ekonomi emang, kalau misalkan saya jadi gubernur ya lanjutkan juga lah, karena itu akan membuka sangat banyak lapangan pekerjaan baru. Jadi ini juga akan menyelesaikan masalah kemiskinan.” Ia juga berpendapat bahwa persoalan reklamasi itu kompleks, bagus untuk dilanjutkan dengan syarat pertanggungjawaban terhadap sosial dan lingkungannya dijalankan. Jika dibandingkan dengan negara lain, pertanggungjawaban di Indonesia kurang jelas.

Sementara Nurma, peserta lain dari Plantarum, menekankan kepada seluruh peserta diskusi untuk tidak mudah terpancing oleh media massa. “Kita harus berpikir, bagaimana sih tindakan bijak yang seharusnya dilakukan,” ujarnya. Selain itu, ia juga menyarankan agar peserta diskusi tidak memandang persoalan reklamasi dari satu sudut pandang saja.

Kegiatan Ngaji Film ditutup oleh pemantik dengan kesimpulan bahwa reklamasi teluk Jakarta memang menimbulkan pro kontra dan tidak bisa dipandang sederhana. “Sebagai mahasiswa, kita tidak boleh seperti orang-orang biasanya yang mudah terprovokasi dengan media-media yang ada. Kita sebagai mahasiswa harus berpikir kritis, harus berpikir dengan tajam,” ujar Mia. Ia juga menegaskan pentingnya pers mahasiswa melalui pena memberi edukasi kepada rakyat lewat tulisan, berdasarkan data yang valid.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password