JDEC : Ingin Jadikan Jember Lebih Baik Melalui Digital Entrepreneurship

Salah satu pembicara JDEC sedang menjelaskan materi tentang Digital Mindset Domination pada meet up JDEC ketiga di Gedung Plasa Telkom Jember. (Sumber foto : JDEC/Irwan Fahmy)

Jember Digital Entrepreneur Community (JDEC), sebuah tempat berkumpulnya pebisnis online di Jember, ingin terus memberikan manfaat bagi masyarakat di Jember yang sudah ataupun yang ingin menjadi digital entrepreneur dengan mengadakan meet up tiap bulan. Setiap meet up, terdapat pembicara-pembicara dari kalangan pebisnis online yang sudah lebih dulu melalang lintang di dunia digital dan sukses, untuk berbagi pengalaman dan memberikan wawasan kepada peserta mengenai digital entrepreneurship.

Akhir pekan bulan Maret lalu (26/3), JDEC telah sukses mengadakan meet up yang ketiga, bertempat di meeting room Gedung Plasa Telkom Jember. Acara tersebut menghadirkan Arif Candra, Fatkul Amir, dan Primanda Rama Yusendo. Saat ini, JDEC tengah mempersiapkan meet up keempat yang akan diadakan sekitar akhir bulan April 2016.

JDEC berdiri sekitar bulan Desember 2015 dengan inisiator-inisiator seperti Maulana Malik, Irwan Fahmy, Ilham Zulkarnain, Aditya Tri, Bowi Jaya, Arif Candra, dan Agus Sakti. Mereka lebih suka disebut sebagai inisiator, bukan founder, dengan alasan bahwa mereka hanya menginisiasi dan agar tidak terkesan seperti ‘bos’. Awalnya, komunitas ini bernama Komunitas Internet Marketer Jember dan sudah memiliki grup di facebook. Pada bulan Desember 2015, nama tersebut diubah menjadi JDEC dan pada bulan itu disebut sebagai bulan terbentuknya JDEC. Diberi nama JDEC yaitu agar cakupan dari JDEC ini lebih luas, tidak hanya internet marketing, tapi mencangkup seluruh digital marketing.

Jenis produk dari bisnis yang digeluti oleh para anggota JDEC ini umumnya ada dua, yaitu bisnis berupa produk fisik seperti hape, tas, dan sebagainya; yang kemudian dipasarkan melalui internet. Sedangkan jenis produk selain produk fisik yaitu produk digital seperti software, video template, desain, dan website template; yang bisa di-download dari internet dan tidak membutuhkan biaya pengiriman barang. Selain menjual produk, tak sedikit pula yang berbisnis dengan mengandalkan keahlian, seperti affiliate marketing, nge-blog, dan sebagainya.

Maulana Malik, salah satu inisiator JDEC mengatakan, “Kalau internet marketing, temen-temen tahunya Facebook Ads, semacam itu. Lebih luas. Jadi kayak tadi, UBIG itu kan juga salah satu perusahaan besar juga di Indonesia. Bisa lebih luas lagi lah. Biar tidak cuma terpaku pada online shop atau apa, tapi juga pemasaran digital yang lebih massive.”

Laki-laki yang akrab disapa Malik itu juga mengakui bahwa ia dan teman-teman inisiator JDEC lainnya sering diundang menjadi pembicara di luar kota. Bahkan dari seringnya diundang untuk menjadi pembicara di luar kota, menurut Malik, para inisiator ini lebih dihargai di luar Jember.

“Permasalahannya itu pertama, kenapa sih aset-aset – bukan cuma kita ya – tapi banyak orang-orang di Jember ini, kayak Mas Adit ini nanti bulan Mei ia ada acara gathering di Jawa Tengah. Itu skalanya nasional. Nah itu kenapa orang-orang Jember atau aset-aset Jember yg bagus ini lebih dihargai di kota lain gitu,” ujar laki-laki kelahiran Blitar, 30 Mei 1990 ini kepada Tim Redaksi Binary.

“Sebetulnya mereka bisa kita arahkan untuk bermanfaat di kota sendiri. Empat bulan yang lalu ketika mengisi acara di Malang, sebelum mengisi acara, saya ngobrol-ngobrol sama Fahmi, sama Mas Candra, ‘Gimana kalau kita hidupkan lagi komunitas yang ada di Jember ini supaya temen-temen yang kebanyakan diapresiasi di kota lain supaya dapet wadah juga di kota sendiri?’ Supaya juga bisa menularkan gitu lho. Kisah suksesnya, bisnisnya,” imbuhnya.

Di setiap meet up yang diadakan, para inisiator ini biasanya ‘menodong’ orang-orang yang telah lama menjadi praktisi di bisnis internet untuk menjadi pembicara, sharing kepada anggota-anggota JDEC lainnya agar bisa memberikan banyak manfaat untuk semua anggota JDEC lainnya. “Sebelum temen-temen memiliki manfaat lebih luas hingga skala nasional, paling enggak setiap bulan di Jember ada lah sebuah ikatan yang bisa saling bermanfaat lah untuk temen-temen. Dan itu dari awal gratis. Ini nirlaba gitu. Kita nggak mengambil untung satu peser pun untuk program ini. Kalaupun sekarang berbayar itu Telkom meminta kita untuk membeli wifi.id  itu, seperti itu, sebagai kontribusi kita untuk pinjam ruangan. Insyaallah kedepannya gratis. Seperti itu,” ungkap laki-laki yang berbisnis digital product ini.

Mengenai jumlah anggota, Malik juga menuturkan, kini mencapai 350 orang selama 3 bulan terakhir (hingga April 2016). Namun jumlah anggota yang aktif menghadiri setiap pertemuan JDEC sekitar 50 hingga 70 orang, yang berasal dari pekerja kantoran, mahasiswa, dan ada pula yang masih sekolah. “Jadi istilahnya kita sudah memfasilitasi pembicara yang biasanya berbayar, ini kita gratiskan. Kita fasilitasi tempat yang biasanya berbayar jadi gratiskan karena kan kita sudah ngasih ilmu ngasih makan. Seharusnya sih kita berharapnya lebih banyak animo lagi yang sesuai dengan hashtagnya kita, yaitu yang kita promosikan, yaitu #betterJember. Jadi kita pengen Jember lebih baik dengan cara kita.”

Anggota JDEC berfoto bersama usai acara meet up JDEC ketiga (Sumber foto: JDEC/Irwan Fahmy)
Anggota JDEC berfoto bersama usai acara meet up JDEC ketiga (Sumber foto: JDEC/Irwan Fahmy)

Malik juga menegaskan bahwa dengan mengikuti JDEC, tidak hanya ilmu yang bisa didapatkan, namun hal yang penting pula dari itu adalah networking. Semakin mengenal banyak orang, maka semakin banyak kemungkinan untuk dapat bekerja sama dengan perusahaan lain. Malik pun juga mencontohkan Barlin House, sebuah bisnis kuliner di Jember, yang berdirinya tidak lepas dari peran para inisiator JDEC.

Harapan lain dari keberadaan JDEC, tambah Malik, yaitu untuk menggerakkan anak-anak muda terutama mahasiswa supaya bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk melakukan sesuatu yang berguna. Seperti kebanyakan inisiator JDEC telah memulai bisnis sejak di bangku Sekolah Menengah Atas. “Syukur-syukur bisa seperti kita. Dan supaya yang kesusahan mencari pendapatan tambahan, atau mencari dan juga mengembangkan bisnisnya, kita bisa membantu untuk menyediakan pembicara-pembicara keren untuk pengembangan bisnis offline untuk pemasarannya ataupun online. Bahkan bulan lalu ada anak SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang sudah menghasilkan uang dari internet,” tambah Malik. []

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password