Mengenal Dunia Kerja IT di Bali Melalui Kegiatan Study Excursie

Salah satu pekerja Kumpul Coworking Space sedang menjelaskan tentang Kumpul Coworking Space dan tata letak ruangan mereka. Pekerja yang sedang menjelaskan tersebut berasal dari Holand, Belanda. (BINARY/Fitri Febriyanti)

Sekitar dua ratus mahasiswa Program Studi Sistem Informasi (PSSI) Universitas Jember melakukan perjalanan ke Bali (13/04) untuk melaksanakan kegiatan Study Excursie (SE). Kegiatan ini dilaksanakan oleh kepanitiaan yang dibentuk oleh Badan Eksekutif Mahasiswa PSSI. Salah satu panitia SE menjelaskan, SE adalah kegiatan yang wajib diikuti oleh mahasiswa PSSI untuk mengetahui bagaimana ilmu-ilmu yang didapatkan di bangku kuliah ketika diaplikasikan di dunia kerja, khususnya di bidang kerja yang berkaitan dengan IT (Information Technology) dan Sistem Informasi. Selain itu, SE diikuti mahasiswa PSSI sebagai syarat untuk menempuh Praktik Kerja Lapangan (PKL) nantinya. Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkenalkan dunia kerja kepada mahasiswa PSSI.

Peserta SE tahun 2016 ini berasal dari mahasiswa semester II dan beberapa dari semester IV dan VI. Sejumlah empat bus pariwisata diberangkatkan pada pukul 20.00 WIB dari Jember untuk melakukan kunjungan ke beberapa perusahaan di Bali. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari tiga malam, yaitu pada tanggal 13-15 April 2016.

Dalam perjalanan, peserta dijelaskan tentang pulau Bali. I Ketut Mayun – salah satu pemandu wisata yang menemani rombongan bus ketiga – menjelaskan, Bali disebut juga Pulau Dewata karena mayoritas masyarakat memuja dewa. Bali masih memiliki kaitan dengan pulau Jawa, yaitu dengan kota Kediri, yang dibawa oleh Resi Markandeya. Salah satu bukti, lanjut I Ketut Mayun, pemberian nama anak mengambil kata dari bahasa Jawa, seperti nama anak pertama yang diselipkan kata ‘wayan yang berasal dari kata ‘wayah, yang berarti besar.

Beberapa hal lain menarik perhatian peserta, seperti sesajen yang dijumpai hampir di tiap perjalanan dan rumah masyarakat Bali. “Ya yang unik itu, banyaknya sesajen-sesajen gitu, kan beda dengan kota-kota biasanya,” ungkap Sahriatus Soviah, salah satu peserta SE yang berasal dari angkatan 2015.

Selain itu, terdapat beberapa peraturan yang harus ditaati dan dianggap sebagai pamali, seperti tidak boleh melangkahi, menginjak, dan menendang sesajen yang ada. “Dikhawatirkan saudara sekalian akan mendapatkan hal yang tidak baik, berdasarkan perjalanan-perjalanan yang sebelumnya pernah terjadi. Dan ini bukan karangan, jadi mohon taati peraturan tidak tertulis tersebut,” imbuh I Ketut Mayun.

Kunjungan pertama dilakukan pada tanggal 14 April 2016 ke Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Denpasar. Di BMKG, peserta mendapat materi tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang salah satunya mempelajari tentang bencana alam dan penyebabnya, baik yang dapat diprediksi ataupun tidak. Salah satu contoh bencana yang tidak dapat diprediksi yaitu gempa bumi.

Peserta juga diberikan penjelasan tentang penerapan media sosial dalam pemberitahuan umum pada suatu daerah yang terkena bencana alam, seperti sms, facebook, dan media lainnya. Namun pemateri yang menjabat sebagai Kepala Bidang Observasi tersebut tidak menjelaskan tentang penerapan Sistem Informasi di dalam pelaksanaan tugas di BMKG, hanya disebutkan beberapa alamat website yang bisa diakses masyarakat untuk melihat cuaca, iklim, dan pemberitahuan bencana.

Setelah mengunjungi BMKG Denpasar, keempat bus melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sanur, sebuah tempat yang memiliki berbagai jenis usaha didalamnya. Usaha-usaha tersebut dikelola oleh beberapa komunitas, salah satunya Kumpul Coworking Space. “Kami disini bukan hanya bekerja, tapi juga berkomunitas. Kami saling berbagi pengalaman,” kata Co-Founder Kumpul Coworking Space. Selain Kumpul Coworking Space, terdapat pula komunitas-komunitas lainnya yang mengelola usaha-usaha lain seperti Kopi Kultur dan To-ko.

Kumpul Coworking Space merupakan komunitas yang berkutat di bidang freelance. Pekerja di dalamnya tidak hanya berasal dari Indonesia, tapi juga dari berbagai negara. Salah satu kelebihan yang dimiliki Kumpul Coworking Space yaitu apabila salah satu pekerja mendapatkan permintaan diluar keahliannya, maka pekerja tersebut dapat memberikan pekerjaan itu kepada pekerja yang memiliki kemampuan yang sesuai.

Pagi pada tanggal 15 April 2016, peserta diberangkatkan menuju Cafe Grafika. Di tempat yang ditentukan oleh panitia tersebut, peserta mengikuti salah satu rangkaian acara SE lainnya, yaitu public speak oleh Hendra W Saputro, pendiri Bali Orange Communications (BOC) Indonesia.

BOC Indonesia merupakan salah satu perusahaan CV (Commanditaire Vennootschap atau Persekutuan Komanditer) yang menjual produk-produk digital melalui media online. ‘Bisnis duduk dapat duit’, begitu istilah yang digunakan Hendra untuk menyebut pekerjaan yang dilakukan hanya di depan laptop tersebut.

“Kerja kami itu jualan. Nah, apa produknya? Yaitu domain name, web hosting, dan tukang buat website,” jelas Hendra. Selain tentang perusahaan yang didirikannya, dalam kesempatan tersebut Hendra juga menceritakan tentang proses awalnya menjadi technopreneur.

Hendra W Saputro, Pendiri BOC, sedang menjelaskan tentang pekerjaan di BOC Indonesia dengan materi ‘Bisnis Duduk Dapat Duit’ di Cafe Grafika. (BINARY/Fitri Febriyanti)
Hendra W Saputro, Pendiri BOC, sedang menjelaskan tentang pekerjaan di BOC Indonesia dengan materi ‘Bisnis Duduk Dapat Duit’ di Cafe Grafika. (BINARY/Fitri Febriyanti)

Di hari terakhir kegiatan SE tersebut, peserta melakukan agenda wisata ke pasar Seni Sukowati II dan Tanah Lot. Pasar Seni Sukowati II atau biasa disebut Pasar Sukowati Guwang itu menyediakan makanan khas Bali, seperti pie susu, souvenir, dan pakaian-pakaian dengan harga murah. Untuk mendapatkan harga yang lebih murah, peserta melakukan proses tawar-menawar sekali, dua kali, atau bahkan lebih.

Setelah mengunjungi pasar untuk berwisata belanja, peserta melanjutkan perjalanan ke Tanah Lot untuk melihat sunset sebelum pulang ke Jember. Namun rencana melihat sunset tersebut gagal karena cuaca yang tidak mendukung dan keadaan sudah petang ketika peserta tiba di Tanah Lot.

Dari seluruh rangkaian acara SE yang telah dilaksanakan, banyak peserta yang merasa puas dan terinspirasi. “Itu menginspirasi mahasiswa supaya mau bekerja di bidang IT tapi tidak hanya menjadi pegawai biasa,” ungkap Devi Rohmatulloh, salah satu peserta SE angkatan 2015.

Beberapa peserta mengungkapkan bahwa SE membawakan pengalaman baru bagi mereka, untuk belajar, dan mengenal dunia kerja. Dengan adanya SE pula, peserta dapat mengetahui beberapa komunitas, perusahaan, dan kantor berbasis IT di Bali yang dapat dijadikan sebagai opsi tempat mahasiswa PSSI melakukan PKL nantinya. Seluruh rangkaian acara SE, menurut mereka, menyenangkan karena kegiatan SE juga diselingi oleh kegiatan berwisata, walau hampir setiap agenda berjalan molor. []

Pendiri BOC Indonesia dan Rombongan SE berfoto bersama di Cafe Grafika usai kegiatan public speak. (Sumber foto : Panitia SE)
Pendiri BOC Indonesia dan Rombongan SE berfoto bersama di Cafe Grafika usai kegiatan public speak. (Sumber foto : Panitia SE)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password